Bulan: Januari 2026

  • Diutus Presiden, Menag ke Mesir Bahas Ekoteologi dan Pembukaan Cabang Al-Azhar di Indonesia

    Diutus Presiden, Menag ke Mesir Bahas Ekoteologi dan Pembukaan Cabang Al-Azhar di Indonesia

    Menteri Agama Nasaruddin Umar bertolak ke Mesir untuk menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto dalam dua agenda strategis, yakni kerja sama pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia, serta menjadi pembicara kunci pada seminar internasional tentang ekoteologi di Universitas Al-Azhar, Kairo.

    “Akan menindaklanjuti petunjuk Bapak Presiden terkait kemungkinan bekerja sama dengan Al-Azhar di Indonesia sebagaimana pernah dibahas dalam pertemuan bilateral beberapa negara Muslim,” ujar Menag sebelum keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Minggu (18/1/2026).

    Menag menilai pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia dapat menjadi solusi efektif bagi mahasiswa Asia Tenggara yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi berbagai tantangan regional untuk belajar di Mesir. “Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,” tutur Menag.

    Selain memperluas akses pendidikan Islam, langkah ini juga dinilai dapat membantu Al-Azhar menghadapi beban pendidikan yang semakin berat. “Mesir sekarang overloaded, selain menanggung pengungsian dalam jumlah besar juga jumlah mahasiswa internasional meningkat, sementara beban ekonominya berat,” jelas Menag.

    Menurut Menag, gagasan pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia mendapat dukungan dari sejumlah negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania.

    Skema kerja sama yang akan dibahas meliputi kemungkinan program dual degree, joint faculty, maupun model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.

    Bicara Ekoteologi di Al-Azhar

    Selain agenda kerja sama pendidikan, Menag juga memenuhi undangan resmi Universitas Al-Azhar untuk menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam seminar internasional bertema ekoteologi. Kehadiran Menag dalam forum tersebut merupakan mandat Presiden RI untuk menyampaikan pandangan Indonesia terkait pendekatan keagamaan dalam pelestarian lingkungan.

    “Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat yang diberikan kepada kita sebagai keynote speech di dalam seminar internasional tentang ekoteologi,” ujar Menag.

    Menag menjelaskan bahwa perhatian dunia terhadap konsep ekoteologi Indonesia terus menguat. Isu ini sebelumnya juga mengemuka dalam forum lintas agama di Vatikan dan mendapat respons positif dari para pemimpin keagamaan internasional. “Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia,” kata Menag. 

    Menag berharap, kunjungan ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam global sekaligus memperluas jangkauan diplomasi pendidikan dan keagamaan Indonesia di tingkat internasional.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Gerakan Wonosobo Asa Cita: Menyemai Harapan, Menguatkan Langkah Anak Bangsa

    Gerakan Wonosobo Asa Cita: Menyemai Harapan, Menguatkan Langkah Anak Bangsa

    Wonosobo (Humas) — Dalam upaya meningkatkan partisipasi pendidikan sekaligus menekan Angka Tidak Sekolah (ATS), Pemerintah Kabupaten Wonosobo menggelar Gerakan Wonosobo Asa Cita, sebuah gerakan kolaboratif yang menghadirkan semangat gotong royong lintas elemen masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa hingga Kamis (13-15/1/2026), di sejumlah satuan pendidikan MTs di Kabupaten Wonosobo.

    Gerakan Wonosobo Asa Cita melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa, serta masyarakat umum sebagai relawan pendidikan. Dengan pendekatan satu relawan satu rombongan belajar, para relawan hadir langsung di ruang-ruang kelas untuk memberikan motivasi, inspirasi, serta penguatan cita-cita kepada para siswa SMP/MTs agar terdorong melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, atau MA. Kehadiran relawan diharapkan mampu menyalakan kembali asa yang sempat redup, serta menumbuhkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan penting menuju masa depan yang lebih baik.

    Dalam kegiatan ini, Penyuluh Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo dari seluruh kecamatan turut ambil bagian secara aktif. Partisipasi tersebut menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui penguatan pendidikan dan pembinaan generasi muda.

    Pada apel pagi di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Kepala Subbagian Tata Usaha, Imron Awaludi, menyampaikan bahwa Gerakan Wonosobo Asa Cita merupakan kegiatan yang sangat positif dan strategis.

    “Kegiatan Gerakan Wonosobo Asa Cita ini sangat positif sebagai bentuk dukungan dan penguatan motivasi bagi para siswa yang mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan. Peran penyuluh sangat penting, karena kehadiran mereka bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa masa depan tetap bisa diraih melalui pendidikan,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa peran penyuluh sangat penting sebagai figur pendamping, pemberi semangat, sekaligus jembatan harapan bagi peserta didik agar tidak berhenti bermimpi dan terus melangkah menata masa depan.

    Melalui Gerakan Wonosobo Asa Cita, diharapkan tumbuh optimisme baru di kalangan peserta didik, bahwa pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan bekal berharga untuk meraih cita-cita dan berkontribusi bagi daerah serta bangsa.

  • Isra Mikraj 1447 H, Menag Ajak Umat Peduli Alam dan Sosial lewat Nilai Salat

    Isra Mikraj 1447 H, Menag Ajak Umat Peduli Alam dan Sosial lewat Nilai Salat

    Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa salat tidak hanya memiliki nilai kesalehan spiritual, tetapi juga memiliki nilai kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kelestarian alam. Penegasan tersebut disampaikan Menag dalam sambutannya menyambut Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M.

    Dalam peristiwa Mikraj, Menag menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu, yang bukan hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia. “Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Menag di Jakarta, Kamis (15/1/2026)

    “Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis,” tegasnya kembali.

    Lebih lanjut, Menag menyoroti prinsip thaharah sebagai syarat sahnya salat. Prinsip ini, menurutnya, mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar. Sementara itu, gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri dalam membangun dan memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

    Menag juga menegaskan bahwa esensi Isra Mikraj menunjukkan Islam sebagai fondasi etika ekologis. Konsep tauhid, lanjutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan (unity of creation), bahwa alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT.

    “Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, sementara menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya,” ujarnya.

    Melalui peringatan Isra Mikraj 1447 H ini, Menag mengajak seluruh umat menjadikannya sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia menilai, krisis lingkungan yang dihadapi saat ini menuntut hadirnya kesalehan yang utuh, yakni kesalehan yang tidak hanya tercermin dalam ketaatan beribadah, tetapi juga dalam sikap menjaga keseimbangan alam dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.

    “Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita ke langit, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.

    “Semoga peringatan Isra Mikraj ini menjadi titik balik bagi kita semua dalam di menguatkan kesalehan spiritual, kesalehan sosial yang menjunjung tinggi keadilan dan kemaslahatan, serta kesalehan ekologi yang diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap kelestarian alam,” tuturnya.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Kemenag Wonosobo Kampanyekan Sekolah Ramah Anak, Tekankan Pencegahan Tiga Dosa Besar Pendidikan

    Kemenag Wonosobo Kampanyekan Sekolah Ramah Anak, Tekankan Pencegahan Tiga Dosa Besar Pendidikan

    Wonosobo (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo terus mengintensifkan kampanye Sekolah Ramah Anak melalui program safari ke sejumlah satuan pendidikan. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan saat upacara bendera di SMP Darussalam Pulungsari, Kecamatan Kaliwiro, Senin (12/1/2026).

    Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kankemenag Wonosobo, Fakih Khusni, bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan amanat Bupati Wonosobo yang menekankan pentingnya mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan ramah anak.

    Dalam amanatnya, Fakih menegaskan bahwa sekolah ramah anak bukan sekadar konsep, melainkan komitmen bersama untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak dalam pendidikan dan bermain. “Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman dan menyenangkan, tempat anak dapat belajar, bermain, serta berkembang tanpa rasa takut,” ujarnya.

    Kampanye tersebut, lanjut Fakih, merupakan bagian dari dukungan Kementerian Agama terhadap kebijakan nasional dan komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk memberantas tiga dosa besar pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan intoleransi. Melalui safari sekolah, Kemenag mendorong seluruh warga satuan pendidikan untuk membangun budaya saling menghormati dan melindungi anak.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam penegasannya menyampaikan bahwa sekolah ramah anak harus ditopang oleh lingkungan belajar yang aman dan inklusif, pendidik yang peduli, kurikulum yang relevan, kegiatan pengembangan diri yang beragam, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.

    “sekolah ramah anak harus disupport dengan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, guru dan staf yang peduli dan mendukung, kurikulum yang relevan dan menarik, serta partisipasi orang tua,” kata Panut.

    Kepala SMP Darussalam, Fatma Maratus Solehah, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyatakan komitmen sekolahnya untuk terus mengembangkan praktik pendidikan yang ramah anak dan berorientasi pada tumbuh kembang peserta didik secara utuh.

    “Kami berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara fisik, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual,” ujarnya.

    Program safari sekolah ini akan terus dilanjutkan ke berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Wonosobo sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan Kantor Kemenag Wonosobo dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan inklusif bagi seluruh anak. Ps-Ws

  • Gerakan Tanam Pohon Massal, Ikhtiar Ekoteologi Kemenag Wonosobo di Momentum HAB ke-80

    Gerakan Tanam Pohon Massal, Ikhtiar Ekoteologi Kemenag Wonosobo di Momentum HAB ke-80

    Wonosobo (Humas) — Dalam suasana Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menggulirkan gerakan penanaman pohon secara massal sebagai bagian dari penguatan Program Ekoteologi. Kegiatan ini melibatkan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Wonosobo dengan sasaran tempat ibadah lintas agama, lembaga pendidikan formal dan keagamaan, serta pengantin baru melalui program 1 catin 1 pohon.

    Penanaman pohon dilaksanakan di berbagai ruang kehidupan umat, mulai dari masjid, musholla, gereja, vihara, hingga lembaga pendidikan seperti TPQ, madrasah diniyah, dan pondok pesantren. Takmir dan pengurus rumah ibadah, para ustadz, kiai, serta santri digerakkan bersama dalam ikhtiar hijau ini. Sementara itu, bagi calon pengantin, penanaman satu pohon buah dilaksanakan setelah akad nikah sebagai simbol awal kehidupan rumah tangga yang berakar pada keberlanjutan dan keberkahan. Sejak 1 Juni 2025, setiap calon pengantin diwajibkan mentasyarufkan satu pohon buah yang dikelola melalui KUA setempat, kemudian diserahkan kepada Kemenag Wonosobo untuk selanjutnya disalurkan kepada ormas keagamaan, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah.

    Salah satu titik pelaksanaan kegiatan bakti sosial penanaman pohon dalam rangka HAB ke-80 ini berlangsung pada Kamis (8/1/2026) di Pondok Pesantren Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Bumen, Mojotengah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran KUA Mojotengah, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ketua Seksi Bakti Sosial HAB ke-80 Kankemenag Wonosobo, serta tim Humas Kemenag.

    Dalam pesan keagamaannya,  Pengasuh Tahfidzul Qur’an Ponpes Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Gus Nanang, mengingatkan bahwa menanam pohon merupakan ajaran luhur Rasulullah SAW. Ia mengutip dawuh Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun tinggal satu hari menjelang kiamat, manusia tetap diperintahkan untuk menanam pohon. Gus Nanang kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 37, yang berisi doa Nabi Ibrahim AS saat menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus agar tetap mendirikan shalat dan dianugerahi rezeki berupa buah-buahan. “Ayat ini mengajarkan bahwa dari tanah yang gersang pun Allah menghadirkan rezeki dan keberkahan. Menanam pohon adalah ikhtiar menghadirkan kehidupan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim,” tuturnya.

    Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ahmad Fuadi, menegaskan bahwa gerakan tanam pohon massal ini merupakan implementasi nyata Program Ekoteologi Kementerian Agama. “Ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Menanam pohon bukan hanya kerja ekologis, tetapi juga kerja spiritual yang bernilai amal jariyah dan membawa manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

    Melalui gerakan tanam pohon massal di momentum HAB ke-80 ini, Kemenag Wonosobo berharap nilai-nilai keagamaan tidak hanya hidup dalam ruang ritual dan simbolik, tetapi juga tumbuh nyata dalam tindakan menjaga alam. Menanam pohon menjadi simbol syukur, harapan, dan komitmen bersama untuk merawat bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

  • Penyusunan Perkin Tahun 2026; Menyusun Arah, Mengikat Tanggung Jawab Pelayanan Terhadap Masyarakat

    Penyusunan Perkin Tahun 2026; Menyusun Arah, Mengikat Tanggung Jawab Pelayanan Terhadap Masyarakat

    Wonosobo (Humas) — “Penyusunan Perjanjian kinerja bukan hanya rutinitas birokrasi awal tahun. Namun di balik meja rapat, keputusan yang diambil justru menentukan bagaimana sebuah instansi bergerak selama dua belas bulan ke depan.” Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, saat memimpin rapat Penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2026 pagi tadi Selasa, (6/1/2026).

    Rapat yang berlangsung di Aula PLHUT Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Wonosobo tersebut dihadiri sekitar 30 peserta, mencakup unsur pengendali kebijakan hingga pelaksana teknis yaitu Kasubag beserta staf, Kepala Seksi dan Penyelenggara, serta kepala satuan kerja madrasah bersama Kepala Tata Usaha. Komposisi peserta menunjukkan bahwa Perkin tidak disusun sepihak, melainkan dirangkai lintas fungsi.

    Dipimpin oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Wonosobo bersama Kepala Subbagian Tata Usaha, rapat menempatkan Perkin sebagai alat untuk menyelaraskan target individu dengan mandat kelembagaan. Setiap indikator kinerja dibahas agar tidak berhenti sebagai angka di atas kertas, melainkan dapat ditelusuri hingga pada pelaksanaan program.

    Dalam forum ini, Perkin diperlakukan sebagai mekanisme pengikat yang mengikat pimpinan pada arah kebijakan, dan mengikat pelaksana pada capaian yang dapat diukur. Pendekatan tersebut menjadi penanda upaya Kemenag Wonosobo memperkuat disiplin perencanaan sekaligus konsistensi pelaksanaan lebih lagi terkait dengan layanan masyarakat.

    Penyusunan Perkin 2026 menegaskan satu hal, kerja birokrasi tidak hanya soal menjalankan tugas, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan antara perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban. Dari ruang rapat inilah, ritme kerja satu tahun ke depan ditentukan secara tenang, terukur, dan terikat. Ps-Ws

  • Ujian Nasional Kini Juga Ada Di Pesantren

    Ujian Nasional Kini Juga Ada Di Pesantren

    Wonosobo (Humas) – Pagi tadi, Selasa, (6/1/2026) ratusan santri Pondok Pesantren Al Mubarok, Wonosobo, membuka layar ponsel mereka hampir bersamaan. Di ruang-ruang kelas, tidak terlihat lembar soal atau pengawas dengan tumpukan kertas. Simulasi Imtihan Wathani—ujian akhir Pendidikan Diniyah Formal dikerjakan sepenuhnya melalui gawai pribadi dengan jaringan seluler.

    Sebanyak 1.178 santri dari dua jenjang, Wustha dan Ulya, mengikuti simulasi ini. Untuk menghindari kepadatan teknis, pelaksanaan dibagi dua sesi yaitu santri putri pada pagi hari dan santri putra siang harinya. Di setiap kelas, tiga ustadz dan ustadzah bertugas memastikan proses berjalan sesuai prosedur.

    Metode pelaksanaan ini menempatkan pesantren pada mekanisme evaluasi yang tidak berbeda dengan lembaga pendidikan lain yang telah lebih dulu menerapkan ujian berbasis digital. Tidak ada jaringan Wi-Fi terpusat, setiap peserta bergantung pada kestabilan perangkat dan paket data masing-masing.

    Kantor Kementerian Agama (Kantor Kemenag) Kabupaten Wonosobo melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) memantau langsung simulasi tersebut. Kehadiran Kepala Seksi PD Pontren beserta staf, bukan untuk membuka acara seremonial, melainkan mencermati kesiapan teknis yang akan menentukan kelancaran ujian sesungguhnya dalam beberapa hari ke depan.

    “kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan ujian ini bisa berjalan sukses sesuai keinginan, jadi monitoring adalah langkah pasti pengawalan dan pendampingan.” Kata Fakih Khusni, Kepala Seksi PD Pontren.

    Imtihan Wathani sendiri dijadwalkan berlangsung pada 8–10 Januari 2026 untuk jenjang Ulya dan 12–14 Januari 2026 untuk jenjang Wustha. Ujian ini menjadi penentu akhir kelulusan santri Pendidikan Diniyah Formal dan sekaligus pengesahan capaian belajar mereka dalam sistem pendidikan nasional.

    Di Al Mubarok, simulasi ini menjadi potret peralihan dari sistem evaluasi berbasis kepercayaan lembaga menuju pengujian yang sepenuhnya terukur. Tidak hanya kemampuan akademik santri yang diuji, tetapi juga kesiapan pesantren menjalankan standar yang semakin seragam dan terbuka. Ps-Ws

  • Merawat Harmoni dalam Doa, Kemenag Wonosobo Gelar Tasyakuran dan Doa Lintas Iman HAB ke-80

    Merawat Harmoni dalam Doa, Kemenag Wonosobo Gelar Tasyakuran dan Doa Lintas Iman HAB ke-80

    Wonosobo (Humas) — Dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menggelar tasyakuran dan doa lintas iman dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) bertempat di Aula PLHUT Kantor Kementerian Haji Kabupaten Wonosobo, dihadiri jajaran pejabat Kankemenag Wonosobo, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo, serta para tokoh lintas agama dari Islam, Hindu, Buddha, Katolik, dan Kristen.

    Setiap tokoh agama diberikan ruang untuk memimpin doa sesuai keyakinannya masing-masing. Suasana terasa khidmat sekaligus hangat ketika seluruh hadirin menyimak untaian doa lintas iman yang mengalir bergantian, menghadirkan harmoni dalam perbedaan dan menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang dirawat bersama.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada FKUB dan seluruh tokoh agama atas peran aktif dalam menjaga kerukunan umat beragama. Ia mengungkapkan bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Wonosobo mencapai angka 83, sebuah capaian yang patut disyukuri dan dijaga bersama.

    “Capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Wonosobo yang berada pada angka 83 merupakan buah dari kerja bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya peran strategis FKUB dan para tokoh agama. Kerukunan yang terjaga dengan baik akan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan penguatan persatuan di Kabupaten Wonosobo,” ujar Panut. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus mempertahankan nilai toleransi dan kebersamaan yang telah terbangun demi terwujudnya kesatuan dan persatuan di Kabupaten Wonosobo.

    Sementara itu, tausiyah kebangsaan disampaikan oleh Ketua FKUB Kabupaten Wonosobo, Zaenal Sukawi, yang mengangkat tema eko-spiritual sistem harmoni kehidupan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa eko-spiritualitas merupakan perpaduan antara ekoteologi dan spiritualitas, sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

    “Eko-spiritualitas mengajarkan kita bahwa menjaga harmoni dengan alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab kebangsaan. Dengan kesadaran ekologis dan spiritual yang seimbang, masyarakat multikultural Indonesia dapat melangkah bersama menuju kehidupan berkelanjutan dan Indonesia Emas 2045,” tutur Zaenal Sukawi. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural, multireligius, dan kaya akan kearifan lokal memiliki modal besar untuk merespons tantangan hybrid disruption serta menyiapkan generasi unggul yang siap mengemban amanah masa depan.

    Kegiatan tasyakuran dan doa lintas iman ini ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan, sekaligus komitmen bersama untuk terus merawat kerukunan, memperkuat toleransi, dan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

  • Kemenag Rayakan HAB ke-80 Dengan Sederhana, Dana Difokuskan untuk Korban Bencana

    Kemenag Rayakan HAB ke-80 Dengan Sederhana, Dana Difokuskan untuk Korban Bencana

    Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Tahun 2026 dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Acara berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (5/1/2026).

    Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa seluruh rangkaian peringatan Hari Amal Bakti ke-80 telah dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan dan ditutup dengan tasyakuran sederhana. Kesederhanaan tersebut, menurut Menag, merupakan wujud solidaritas Kementerian Agama terhadap masyarakat yang terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra.

    “Peringatan Hari Amal Bakti tahun ini dilaksanakan secara sederhana. Hal ini merupakan bentuk solidaritas kita terhadap saudara-saudara di Sumatra, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang tengah mengalami musibah. Dana yang tersedia kemudian dikonsentrasikan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak,” ujar Menag.

    Menag mengungkapkan, terdapat hikmah di balik pelaksanaan HAB ke-80 yang sederhana. Sejumlah program Kementerian Agama yang sempat mengalami penundaan pencairan anggaran memperoleh izin relokasi, sehingga dapat dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan di wilayah terdampak bencana.

    “Dari situlah kami dapat mengalokasikan bantuan dengan nilai yang cukup signifikan untuk masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ke depan, kita berharap Kementerian Agama akan semakin cerah dan mampu mencerahkan kehidupan masyarakat bangsa,” kata Menag.

    Bantuan untuk wilayah Sumatra bersumber dari Kementerian Agama serta sinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan lembaga-lembaga di bawah koordinasi Kementerian Agama, termasuk masjid-masjid dan Masjid Istiqlal.

    Kementerian Agama hingga saat ini telah menyalurkan bantuan sekitar Rp66,470 miliar yang bersumber dari APBN. Selain itu, ada juga bantuan Kemenag Peduli yang bersumber dari donasi ASN Kementerian Agama dan masyarakat. Ada juga bantuan dari Baznas, Forum Zakat (FOZ), dan Poroz. Total bantuan yang dialokasikan mencapai sekitar Rp155 miliar.

    Menag menjelaskan, penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap dan hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Sejumlah wilayah masih tergenang air, kondisi tanah belum sepenuhnya kering, serta terdapat infrastruktur yang sebelumnya terputus akibat bencana.

    “Alhamdulillah, saat ini sebagian besar jembatan telah tersambung sehingga renovasi rumah ibadah, madrasah, dan pondok pesantren dapat dilanjutkan sebagai bagian dari tanggung jawab Kementerian Agama,” pungkas Menag.

    Target dana bantuan ini dialokasikan untuk pemulihan 1.137 masjid terdampak, 500 madrasah, 357 pesantren, 13 perguruan tinggi keagamaan Islam, bantuan 11.202 guru madrasah, 1.122 tenaga kependidikan, dan 112.964 siswa madrasah.

    Adapun sampai saat ini 935 masjid telah dipulihkan, 9.000 mushaf Al-Qur’an telah tersalurkan, 435 madrasah terdampak sudah siap kegiatan belajar-mengajar, serta bantuan-bantuan lain yang telah tersalurkan seperti 5.886 paket sarana pembelajaran (meja, kursi, papan tulis, laptop, dan printer), 6.410 paket alat kebersihan, dan 792 paket peralatan darurat (tenda, genset, pompa air, dan alat semprot).

    Menag juga menyampaikan apresiasi kepada Dharma Wanita Persatuan Kemenag yang telah menggelar kegiatan donor darah pada rangkaian HAB ke-80. Kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan hampir 300 kantong darah yang akan disalurkan untuk membantu masyarakat, termasuk di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

    “Kegiatan ini sangat membantu, mengingat stok darah di Palang Merah Indonesia dan rumah sakit sering kali menipis, khususnya menjelang dan saat bulan suci Ramadan,” ujar Menag.

    Melalui peringatan HAB ke-80 ini, Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus menumbuhkan semangat kerja ikhlas beramal di lingkungan aparatur serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, sejalan dengan upaya mewujudkan Indonesia yang damai dan maju.

    Dalam arahannya, Menag jug mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama untuk mensyukuri perjalanan delapan dekade Kemenag. Menurutnya, usia 80 tahun merupakan fase yang sarat pengalaman, tantangan, dan prestasi, namun sekaligus menjadi pengingat agar tidak larut dalam kebanggaan.

    “Capaian-capaian Kementerian Agama, termasuk indeks kerukunan umat beragama yang tertinggi sejak Republik Indonesia berdiri, patut kita syukuri. Namun, setiap capaian adalah amanah yang harus terus dijaga dan ditingkatkan,” tegasnya.

    Terkait tema HAB ke-80, Menag menekankan bahwa persatuan dan kerukunan umat beragama harus diarahkan pada terwujudnya Indonesia yang damai dan maju. Sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, hingga masyarakat dan sektor swasta, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan bangsa ke depan.

    Tasyakuran HAB ke-80 dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama periode 2019–2024 Zainut Tauhid Sa’adi, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Helmi Nasaruddin Umar, para staf khusus, staf ahli, tenaga ahli, pejabat eselon I dan II, serta seluruh jajaran pegawai Kementerian Agama. Sejumlah tokoh lintas agama turut hadir dan menambah kekhidmatan acara.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Sehat untuk Mengabdi: Kemenag Wonosobo Hadirkan Cek Kesehatan Gratis di HAB ke-80

    Sehat untuk Mengabdi: Kemenag Wonosobo Hadirkan Cek Kesehatan Gratis di HAB ke-80

    Wonosobo (Humas) — Kepedulian terhadap kesehatan menjadi bagian penting dalam rangkaian Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Wonosobo melalui pelaksanaan kegiatan Cek Kesehatan Gratis yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Wonosobo. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para peserta yang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk ikhtiar menjaga kebugaran dan kualitas hidup.

    Sejak pagi hari, layanan cek kesehatan gratis dipadati oleh ASN dan non-ASN Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo. Dengan tertib dan penuh kesadaran, para peserta mengikuti rangkaian pemeriksaan yang disiapkan oleh tim medis RSI Wonosobo. Kegiatan ini menjadi wujud nyata perhatian Kementerian Agama terhadap kesehatan insan pengabdian, sejalan dengan semangat Hari Amal Bakti yang menempatkan pelayanan dan kepedulian sebagai nilai utama.

    Ketua Panitia HAB ke-80 Kemenag Wonosobo, Artiyah, menyampaikan apresiasi atas partisipasi peserta dan sinergi yang terjalin dengan RSI Wonosobo. Ia menegaskan bahwa kegiatan cek kesehatan gratis ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan peringatan HAB yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberi manfaat langsung. “Melalui cek kesehatan gratis ini, kami ingin memastikan bahwa para ASN dan non-ASN Kemenag Wonosobo tetap sehat dan bugar dalam menjalankan tugas pengabdian. Semoga kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar dan tanggung jawab bersama,” tuturnya.

    Kegiatan cek kesehatan gratis ini melengkapi rangkaian aksi sosial dalam peringatan HAB ke-80 Kemenag RI di Kabupaten Wonosobo. Melalui kolaborasi dan kepedulian yang berkelanjutan, Kementerian Agama Wonosobo berupaya meneguhkan makna pengabdian yang menyentuh langsung kebutuhan nyata, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian antarsesama.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

Translate »
Skip to content