Kategori: Berita

  • Semangat HAB ke-80, Kemenag Wonosobo Tebar Kepedulian melalui Donor Darah

    Semangat HAB ke-80, Kemenag Wonosobo Tebar Kepedulian melalui Donor Darah

    Wonosobo (Humas) – Dalam rangka memeriahkan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan kegiatan Donor Darah Batch 1 pada Senin (15/12/2025) bertempat di MAN 1 Wonosobo. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar Kemenag untuk menghadirkan peringatan HAB yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh langsung nilai-nilai kemanusiaan sekaligus penguatan semangat pengabdian sosial di tengah masyarakat.

    Sebanyak 45 pendonor berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, yang berasal dari civitas akademika MAN 1 Wonosobo dan MTsN 1 Wonosobo. Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, para pendonor hadir untuk berbagi setetes darah yang sarat makna, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.

    Kegiatan berlangsung tertib dan kondusif, diiringi semangat kebersamaan yang terasa kuat. Kolaborasi antar satuan kerja pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama ini mencerminkan sinergi yang harmonis dalam menghidupkan nilai pengabdian sosial, sejalan dengan semangat HAB ke-80.

    Ketua Panitia Donor Darah HAB Kankemenag Wonosobo, Sukirman, menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh pendonor dan dukungan berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa donor darah merupakan bentuk ibadah sosial yang sederhana, namun memiliki dampak besar bagi keberlangsungan hidup orang lain. “Melalui donor darah, kita diajak untuk menumbuhkan empati dan kepedulian. Setiap tetes darah yang disumbangkan adalah harapan dan kehidupan bagi saudara-saudara kita. Inilah makna pengabdian yang ingin kami hadirkan dalam peringatan HAB ke-80,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan donor darah ini, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh dan mengakar, sehingga peringatan Hari Amal Bakti tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga ruang nyata untuk menebar manfaat dan memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

  • Menggema di Hari Ibu: IG PAUD MNU Gelar Lomba Origami dan Sharing Session “Ibu Berkata, Dunia Mendengar”

    Menggema di Hari Ibu: IG PAUD MNU Gelar Lomba Origami dan Sharing Session “Ibu Berkata, Dunia Mendengar”

    Wonosobo (Humas) – Dalam rangka menyambut Hari Ibu Tahun 2025, IG PAUD MNU menggelar Lomba Kreasi Origami Bye-Bye Fever dan Sharing Session bertajuk “Ibu Berkata, Dunia Mendengar” pada Rabu (10/12/2025) di Front One Harvest Hotel Wonosobo. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang apresiasi kreativitas anak sekaligus wahana peningkatan kompetensi guru dalam seni berbicara di depan publik. Acara terselenggara melalui kolaborasi bersama Front One Harvest Hotel, didukung oleh Bye-Bye Fever, serta menghadirkan narasumber utama Apt. Ika Kantiningtyas.

    Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan edukatif, di mana anak-anak menumpahkan imajinasi mereka melalui kreasi origami, sementara para guru larut dalam sesi pembelajaran yang inspiratif. Pendekatan dua arah ini menciptakan harmoni antara kreativitas peserta didik dan penguatan kapasitas pendidik, sejalan dengan semangat peringatan Hari Ibu yang penuh kasih dan pengabdian.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang yang mendorong siswa mengekspresikan kreativitas dan keberaniannya. Ia juga menekankan bahwa guru perlu terus memperkaya kompetensi diri, terutama dalam public speaking yang menjadi keterampilan penting dalam dunia pendidikan. “Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri, dan guru membutuhkan wadah untuk terus tumbuh. Melalui kegiatan ini, keduanya berjalan beriringan,” ujarnya.

    Ketua IG PAUD MNU Kabupaten Wonosobo, Siti Nur Farida, memberikan apresiasi atas antusias peserta dan dukungan seluruh pihak yang terlibat. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar untuk memperkuat kreativitas siswa dan meningkatkan profesionalitas para pendidik. “Semoga momentum ini menjadi pijakan untuk menghadirkan kegiatan-kegiatan inovatif yang menumbuhkan keberanian anak serta kecakapan guru dalam mendampingi mereka,” ungkapnya.

    Lomba origami berlangsung meriah, menghadirkan berbagai karya dari lipatan sederhana hingga bentuk kreatif yang mencerminkan daya imajinasi anak-anak. Pada waktu yang bersamaan, para guru menikmati sesi sharing bersama Apt. Ika Kantiningtyas yang membahas teknik berbicara efektif, gesture yang tepat, dan cara menyampaikan pesan yang berkesan. Sementara itu, siswa turut mengikuti tour the room yang dipandu langsung oleh pihak hotel, memberi pengalaman baru tentang dunia perhotelan yang jarang mereka temui dalam keseharian.

    Kegiatan ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan piala oleh dewan juri Wiwik Muqowimah, dan perwakilan Bye-Bye Fever. Senyum bangga para peserta menjadi penanda bahwa kegiatan ini bukan hanya sebuah perlombaan, tetapi juga perjalanan kecil yang mempertemukan kreativitas, pengalaman baru, dan semangat merayakan kasih seorang ibu. Melalui kegiatan ini, IG PAUD MNU berharap dunia anak dan pendidik terus bergerak maju, halus, lembut, namun penuh arti, sebagaimana cinta ibu yang tak pernah usai.

  • Kemenag Raih Dua Penghargaan dari KPK di Hari Antikorupsi Sedunia 2025

    Kemenag Raih Dua Penghargaan dari KPK di Hari Antikorupsi Sedunia 2025

    Kementerian Agama mencatat dua capaian penting pada Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 yang digelar di Kantor Gubernur DIY, Selasa (9/12/2025). Selain meluncurkan Seri Buku Pendidikan Antikorupsi lintas agama hasil kolaborasi dengan KPK, Kemenag juga meraih dua penghargaan nasional atas kontribusinya dalam penguatan integritas di masyarakat.

    Penghargaan pertama diberikan kepada Kementerian Agama atas kerja sama penyusunan Buku Keagamaan Antikorupsi yang diinisiasi bersama Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK. Kolaborasi ini dinilai berhasil membuka ruang baru pendidikan antikorupsi melalui pendekatan lintas agama.

    Penghargaan kedua diraih oleh Forum Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag, yang dinobatkan sebagai Terbaik Kedua Nasional dalam Forum PAKSI–API Berdaya kategori Kementerian/Lembaga. Penghargaan ini diberikan atas kiprah GTK Madrasah dalam penyuluhan integritas dan pendidikan antikorupsi di sektor pendidikan.

    Dua penghargaan yang diterima Kemenag pada HAKORDIA 2025 mencerminkan kuatnya komitmen institusi ini dalam membangun ekosistem pendidikan antikorupsi—baik melalui literasi keagamaan maupun penyuluhan di lembaga pendidikan.

    Kemenag menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan KPK dan berbagai pemangku kepentingan, serta mendorong penerapan nilai integritas dari tingkat pusat hingga daerah.

    Luncurkan Enam Buku Serial Antikorupsi Lintas Agama

    HAKORDIA 2025 juga menjadi momentum Kemenag dan KPK meluncurkan enam buku antikorupsi lintas agama. Peluncuran enam buku antikorupsi lintas agama ini menjadi simbol komitmen Kemenag dan KPK dalam memperkuat pemahaman (logos) dan aksi nyata (ethos) masyarakat terhadap integritas. Setiap buku menggali ajaran agama masing-masing untuk membangun perilaku antikorupsi yang mengakar.

    Menag berharap seri buku tersebut dapat menyentuh kesadaran terdalam masyarakat dan menjadi landasan moral untuk hidup tanpa korupsi. Ia menegaskan bahwa korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi ancaman yang merusak sendi-sendi kemanusiaan.

    “Pada hakikatnya, semua agama mengajarkan integritas. Korupsi adalah musuh bersama, musuh kemanusiaan,” tegas Menag.

    Menag menjelaskan bahwa pemberantasan korupsi harus disampaikan dalam berbagai bahasa—politik, hukum, budaya, dan agama. Di tengah masyarakat Indonesia yang religius, bahasa agama menjadi medium yang paling efektif untuk menanamkan batasan moral dan nilai-nilai kejujuran.

    “Dengan bahasa agama, kita membatasi diri dengan konsep pahala dan dosa. Bahasa ini efektif untuk membentuk nilai luhur di masyarakat,” ujarnya.

    Judul Buku Pendidikan Antikorupsi Lintas Agama:

    1.         Jalan Dhamma Jalan Anti Korupsi: Cara Menjadi Buddhis Berintegritas dan Berani Menolak Korupsi

    2.         Hidup Satya: Berani Menolak Korupsi (Hindu)

    3.         Integritas & Antikorupsi: Perspektif Islam dalam Pemberantasan Korupsi

    4.         Integritas dan Iman: Peran Gereja Katolik dalam Pemberantasan Korupsi

    5.         Peran Gereja dalam Mewujudkan Bangsa Tanpa Korupsi (Kristen)

    6.         Kebajikan sebagai Landasan Antikorupsi dalam Perspektif Khonghucu

    Humas dan Komunikasi Publik

  • Merajut Kemitraan untuk Layanan Halal yang Lebih Baik, LPH Padhang Manah Sibyan Audiensi ke Kemenag Wonosobo

    Merajut Kemitraan untuk Layanan Halal yang Lebih Baik, LPH Padhang Manah Sibyan Audiensi ke Kemenag Wonosobo

    Wonosobo (Humas) Dalam semangat mempererat ikatan dan meneguhkan ikhtiar menghadirkan produk halal bagi masyarakat, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Padhang Manah Sibyan—yang berada di bawah naungan Yayasan Padhang Manah Sibyan—melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo pada Selasa (9/12/2025) bertempat di Ruang Rapat Kankemenag Wonosobo. Pertemuan ini menjadi jembatan koordinasi untuk menguatkan pelayanan pemeriksaan halal di wilayah Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Wonosobo yang terus bertumbuh kebutuhan sertifikasinya.

    Audiensi berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. LPH Padhang Manah Sibyan menyampaikan perkembangan legalitas serta status akreditasi sebagai lembaga pemeriksa halal yang telah resmi terverifikasi. Selain itu, dibahas pula ruang kolaborasi yang lebih luas—mulai dari pendampingan pelaku usaha, fasilitasi sertifikasi halal, hingga penyelarasan program agar sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Tujuannya sederhana namun bermakna: mempertemukan niat baik dan kerja nyata demi kemaslahatan umat.

    Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ahmad Fuadi, menyambut positif langkah tersebut. “Kami dari Kemenag Wonosobo merespons baik. Dengan hadirnya LPH ini, berarti kami memiliki mitra yang tumbuh dari masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Bimas Kemenag akan sangat terbantu dalam pelaksanaan tugas di lapangan, karena pelayanan pemeriksaan halal berjalan selaras dengan mandat Kementerian Agama,” ungkapnya. Fuadi juga menekankan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG)—yang kini berjalan di Wonosobo—memerlukan pendampingan dan pengawasan yang kuat, sehingga keberadaan mitra seperti LPH menjadi sangat berarti.

    Dari pihak yayasan, Irwan Salis, selaku Direksi Yayasan Padhang Manah Sibyan, menjelaskan alur sistem pemeriksaan halal yang dijalankan LPH. Ia menuturkan bahwa proses dimulai dari pelaku usaha yang mendaftar, kemudian auditor datang melakukan pemeriksaan menyeluruh: bahan baku, proses produksi, hingga kompetensi SDM Syariah. “Auditor bertugas menelaah kelayakan bahan dan proses produksi, sementara SDM Syariah memastikan kesesuaian unsur-unsurnya dengan ketentuan kehalalan. Adapun penetapan fatwa tetap menjadi kewenangan MUI Jawa Tengah,” jelasnya.

    Pertemuan ini menandai sebuah langkah kecil namun bermakna: memperkuat simpul-simpul kerja sama, meneguhkan kesiapan lembaga, dan memastikan bahwa pelayanan halal di Wonosobo berjalan semakin optimal, profesional, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Dengan sinergi yang kian rapat, diharapkan ekosistem produk halal di Wonosobo tumbuh semakin tertata, aman, dan membawa keberkahan bagi semua.

  • Kemenag Wonosobo Perkuat Ekosistem Produk Halal Bersama Halal Center UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto

    Kemenag Wonosobo Perkuat Ekosistem Produk Halal Bersama Halal Center UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto

    Wonosobo (Humas) — Upaya memperkuat ekosistem produk halal di daerah terus digiatkan. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menerima kunjungan Halal Center UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Kamis (11/12/2025), dalam rangka koordinasi pengembangan industri halal di wilayah Kabupaten Wonosobo. Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis untuk menyatukan langkah dan visi dalam membangun ekosistem produk halal yang inklusif dan berkelanjutan.

    Forum koordinasi tersebut membahas pendampingan jaminan produk halal bagi pelaku usaha, sekaligus penguatan industri halal di tingkat daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, agar semakin berdaya saing dan percaya diri dalam menghadirkan produk yang aman, halal, dan berkualitas.

    Perwakilan Halal Center UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Dani Kusumastuti, menyampaikan bahwa sinergi dengan Kemenag daerah merupakan kunci dalam membangun ekosistem halal yang kuat. “Penguatan industri halal tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas lembaga agar pendampingan jaminan produk halal dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha, terutama di daerah. Wonosobo memiliki potensi besar yang perlu kita dorong bersama,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kankemenag Kabupaten Wonosobo, Ahmad Fuadi, menyambut baik kunjungan dan inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa Kemenag Wonosobo siap membuka ruang kerja sama demi kemaslahatan umat. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran Halal Center UIN Saifuddin Zuhri. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat layanan jaminan produk halal serta mendorong tumbuhnya industri halal yang berdampak nyata bagi masyarakat Wonosobo,” tuturnya.

    Melalui pertemuan ini, Kemenag Wonosobo dan Halal Center UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto berkomitmen untuk terus menjalin sinergi, menghadirkan pendampingan, dan menumbuhkan ekosistem produk halal sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun ekonomi umat yang berkeadilan dan berkelanjutan.

  • Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Mengurai Gagasan Tiga Narasumber dalam Halaqah Revitalisasi Pendidikan Karakter

    Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Mengurai Gagasan Tiga Narasumber dalam Halaqah Revitalisasi Pendidikan Karakter

    Wonosobo (Humas) – Pada rangkaian Halaqah Pesantren: Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren Angkatan IV, para peserta diajak menelusuri kembali akar filosofis, dinamika, serta strategi pembaruan pendidikan karakter melalui pemaparan tiga narasumber utama. Ketiganya menghadirkan spektrum pandangan yang saling melengkapi: mulai dari implementasi nilai dasar, telaah konseptual, hingga arah revitalisasi pendidikan karakter di era baru, Senin (8/12/2025).

    Narasumber pertama, KH Imam Sonhaji, membuka diskusi dengan mengajak peserta melihat kembali bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter terbentuk dan dihidupkan dalam keseharian santri. Ia menegaskan bahwa karakter tidak hanya lahir dari materi pembelajaran, tetapi terpatri melalui kebiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang konsisten. Santri diberi amanah dalam kepengurusan pesantren, dilibatkan dalam kegiatan ibadah, pengajian, hingga mujahadah—semua menjadi ruang pembiasaan yang menginternalisasi nilai spiritual, tanggung jawab, serta kedisiplinan. Namun demikian, KH Imam mengingatkan bahwa kegiatan yang telah menjadi rutinitas kerap kehilangan maknanya apabila tidak disertai kesadaran. Karena itu, pendidikan karakter di pesantren harus selalu ditanamkan melalui tiga pilar: ilmu, hal (kondisi hati), dan amal, sehingga nilai agama tidak hanya diketahui, tetapi dirasakan dan diwujudkan dalam laku hidup sehari-hari.

    Materi berikutnya disampaikan oleh Ngarifin Siddiq, yang mengurai dinamika dan konsep pendidikan karakter pesantren dalam konteks tantangan pendidikan Indonesia saat ini. Ia memaparkan bahwa banyak persoalan karakter di dunia pendidikan muncul akibat dominasi pendekatan kognitif semata, sementara aspek afektif dan perilaku belum terintegrasi secara optimal. Pesantren, menurutnya, menjadi rujukan penting karena sejak berabad-abad telah mengembangkan pendidikan karakter yang holistik melalui keteladanan kiai, disiplin tradisi, dan kehidupan berasrama. Dengan memadukan proses knowing the good, feeling the good, dan acting the good, pesantren terbukti berhasil melahirkan generasi berakhlak sekaligus berdaya. Ngarifin juga menyinggung tantangan modern: budaya digital, perubahan sosial, serta tuntutan kompetensi baru yang mesti dijawab tanpa menghilangkan akar tradisi. Pesantren, katanya, “harus menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai pusat adab dan moralitas.”

    Sebagai penutup, Sari Hernawati menyampaikan strategi revitalisasi pendidikan karakter pesantren yang berpijak pada kekuatan tradisi, namun bergerak progresif menjawab kebutuhan masa kini. Ia menekankan perlunya penguatan nilai dasar pesantren—kesederhanaan, kemandirian, keikhlasan, dan tanggung jawab—melalui sistem yang lebih terstruktur. Kiai, lanjutnya, tetap menjadi figur sentral sebagai role model moral, sementara kurikulum, tradisi turats, dan kegiatan harian menjadi jalur pembentukan karakter yang harus dirawat secara terukur. Revitalisasi, menurut Sari, tidak hanya mempertahankan pola lama, tetapi juga meliputi keberanian untuk membaca tantangan, mengintegrasikan literasi modern, memperkuat otoritas moral, dan membangun inovasi yang tetap sejalan dengan ruh pesantren. Dengan demikian, pesantren dapat terus berperan sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif, relevan, dan berpengaruh bagi pembentukan karakter generasi masa depan.

    Melalui paparan ketiga narasumber tersebut, halaqah ini tidak hanya memberikan pengetahuan konseptual, tetapi juga menghadirkan arah baru bagi penguatan pendidikan karakter pesantren: sebuah pendidikan yang berakar pada tradisi, berjiwa pada nilai, dan bertumbuh mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan cahaya.

  • Revitalisasi Karakter Pesantren: Menyulam Tradisi, Meneguhkan Marwah Pendidikan Wonosobo

    Revitalisasi Karakter Pesantren: Menyulam Tradisi, Meneguhkan Marwah Pendidikan Wonosobo

    Wonosobo (Humas) – Dalam upaya memperkuat kembali denyut pendidikan karakter di lingkungan pesantren, Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, menggelar Halaqah Pesantren: Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren Angkatan IV pada Senin (8/12/2025) di Hotel Dafam Wonosobo. Kegiatan ini menghadirkan 150 peserta dari unsur kelembagaan pesantren, akademisi, pemerhati pendidikan keagamaan, rekan media, serta lembaga mitra yang memiliki keterhubungan dalam ekosistem pesantren.

    Halaqah berlangsung dalam suasana yang konstruktif dan dialogis, menghadirkan ruang bagi peserta untuk menimbang kembali urgensi pendidikan karakter sebagai bagian fundamental dalam tradisi pesantren. Di tengah dinamika kemajuan teknologi dan perubahan sosial, pesantren tetap menjadi institusi yang menanamkan nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, serta kebersamaan dalam keragaman.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan manajemen pesantren, peningkatan kapasitas dalam pemanfaatan teknologi informasi, serta pengembangan pendidikan karakter sebagai fondasi kemaslahatan umat.


    “Pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan watak dan nilai dasarnya. Kematangan manajemen, kesiapan digital, dan keteguhan karakter menjadi kunci bagi keberlangsungan pesantren di masa mendatang,” ujarnya.

    Perwakilan Bidang Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Ansori, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa halaqah ini menjadi sarana strategis untuk memperkuat jejaring, memperluas wawasan, serta memperbarui komitmen dalam pengembangan pendidikan karakter pesantren. “Forum ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dan mendorong inovasi yang tetap selaras dengan nilai-nilai tradisional pesantren,” ungkapnya.

    Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kankemenag Wonosobo, Fakih Khusni, turut menekankan bahwa pesantren merupakan pilar penting dalam pembentukan karakter generasi. Nilai-nilai seperti kemandirian berpikir, kesederhanaan dalam pola hidup, dan semangat kebersamaan menjadi warisan pendidikan pesantren yang perlu terus dijaga dan dikembangkan. “Pesantren hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter yang komprehensif,” tuturnya.

    Halaqah ini menghadirkan tiga narasumber utama. KH Imam Sonhaji, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ittihad Jaraksari, memaparkan implementasi nilai-nilai pendidikan karakter di pesantren, bagaimana ia diajarkan bukan hanya lewat kitab, melainkan lewat teladan dan laku hidup. Ngarifin Siddiq, Pengasuh Pondok Pesantren Safinatunnajah sekaligus akademisi, mengajak peserta melihat dinamika dan konsep pendidikan karakter pesantren di tengah dunia yang terus berubah. Sementara Sari Hernawati, Dosen Unwahas, menawarkan strategi revitalisasi pendidikan karakter agar tetap relevan, terukur, dan mampu menjawab tantangan zaman.

    Halaqah ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang renung untuk kembali melihat pesantren sebagai lentera yang tak padam—tempat nilai dan ilmu dirawat dengan penuh kesabaran. Melalui kegiatan ini, diharapkan pesantren semakin siap menapaki masa depan: membentuk generasi yang berakhlak, adaptif, dan berdaya, serta terus menebarkan cahaya bagi masyarakat dan bangsa.

  • Mengawali Ikhtiar Mulia, Wonosobo Gelar Seleksi Tahap 1 PPIH 1447H/2026M

    Mengawali Ikhtiar Mulia, Wonosobo Gelar Seleksi Tahap 1 PPIH 1447H/2026M

    Wonosobo (Humas) — Seleksi Tahap 1 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dan PPIH Kloter Tahun 1447H/2026M tingkat Kabupaten/Kota di Kabupaten Wonosobo resmi berlangsung pada Kamis (4/12/2025) di Aula PLHUT Kankemenag Wonosobo. Kegiatan ini menjadi tahapan awal dalam menjaring calon petugas haji yang kompeten, berintegritas, serta siap memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia.

    Pada proses pendaftaran sebelumnya, sebanyak 144 orang tercatat mengajukan diri sebagai calon PPIH. Setelah dilakukan verifikasi administrasi secara ketat dan menyeluruh, 70 peserta dinyatakan lolos dan berhak mengikuti Seleksi Tahap 1 yang diselenggarakan menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT). Peserta tersebut berasal dari berbagai formasi PPIH Arab Saudi, meliputi pembimbing ibadah, pelayanan konsumsi, pelayanan transportasi, pelayanan akomodasi, serta Siskohat. Selain itu, seleksi juga diikuti oleh peserta dari formasi PPIH Kloter, yaitu ketua kloter dan pembimbing ibadah haji kloter. Meski berbeda peran, mereka dipersatukan oleh satu tekad: menjadi pelayan tamu-tamu Allah dengan kesungguhan yang terbaik.

    Kegiatan seleksi diawali dengan pembacaan sambutan Menteri Haji dan Umrah RI oleh Nawawi, Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kankemenag Wonosobo. Dari sambutan tersebut, terdapat kutipan yang dinilai paling relevan dan menggugah, sekaligus menjadi ruh dari seleksi ini:

    “Jadikan proses seleksi ini sebagai ikhtiar terbaik, bukan sekadar kompetisi. Bangun niat yang tulus bahwa tugas petugas haji adalah khidmah—pelayanan yang mulia dan membawa keberkahan besar.”

    Kutipan tersebut menegaskan bahwa tugas petugas haji tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian yang menuntut kesiapan mental, ketulusan, empati, serta komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji.

    Seleksi berbasis CAT ini menjadi instrumen objektif dan transparan dalam memastikan bahwa calon petugas yang terpilih benar-benar memenuhi standar kompetensi dan integritas yang dibutuhkan. Kankemenag Wonosobo berharap melalui proses ini, lahir para petugas haji yang profesional, berdisiplin tinggi, dan mampu menjadi representasi pelayanan Indonesia yang unggul di Tanah Suci.

    Kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar, mencerminkan kesungguhan seluruh peserta dalam mengikuti setiap tahapan. Namun demikian, beberapa kendala teknis sempat ditemui di lapangan, khususnya terkait perangkat gawai dan jaringan yang digunakan peserta. Meski begitu, hambatan tersebut dapat diatasi dengan baik berkat koordinasi panitia dan kesiapan pendukung teknis, sehingga proses seleksi tetap berjalan sesuai jadwal dan ketentuan.

    Dengan pelaksanaan seleksi ini, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji melalui rekrutmen petugas yang kredibel dan berkompeten. Semoga rangkaian seleksi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan pelayanan haji yang semakin baik, aman, dan bermartabat.

  • Optimalisasi Layanan Pendidikan Agama Non Islam, Kemenag Wonosobo Jalin Kolaborasi dengan Cabdin IX

    Optimalisasi Layanan Pendidikan Agama Non Islam, Kemenag Wonosobo Jalin Kolaborasi dengan Cabdin IX

    Banjarnegara (Humas) — Upaya memperkuat layanan pendidikan agama bagi siswa Non Islam di Kabupaten Wonosobo mencapai babak penting pada Senin (1/12/2025). Bertempat di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jalan Blater, Pucang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, dilakukan penyerahan Perjanjian Kerja Sama terkait pelaksanaan Pendidikan Agama Siswa Non Islam dan Guru Pendidikan Agama Non Islam jenjang SMA/SMK.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, yang diwakili oleh Penyelenggara Katolik, Yulius Eguh Ristanto Haryoko, menyerahkan langsung dokumen kerja sama tersebut kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX, Nikmah Nurbaity. Dalam kesempatan tersebut, Yulius menyampaikan apresiasi atas terjalinnya sinergi lintas lembaga.


    “Mewakili Kantor Kemenag Kabupaten Wonosobo, kami mengucapkan terima kasih kepada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX yang telah sepakat melakukan kerja sama pelaksanaan Pendidikan Agama Siswa Non Islam dan Guru Pendidikan Agama Non Islam. Semoga hal ini semakin memperkuat sinergi dan koordinasi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi,” ujarnya.

    Perjanjian Kerja Sama tersebut ditandatangani oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Wonosobo, Panut, dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX, Nikmah Nurbaity, sebagai wujud komitmen bersama dalam koordinasi dan kolaborasi. Ruang lingkup kerja sama meliputi penyampaian informasi data DAPODIK siswa Non Islam, seperti Nomor Sekolah, Nama Sekolah, Nama Siswa, dan Kelas, dari Cabang Dinas Pendidikan kepada Kemenag Wonosobo. Data tersebut nantinya menjadi dasar sinkronisasi serta penugasan Guru Pendidikan Agama atau Pembina Pendidikan Agama Non Islam sesuai agama siswa serta lokasi sekolah.

    Melalui kerja sama ini, Kemenag Wonosobo dapat memetakan kebutuhan guru atau pembina Pendidikan Agama Non Islam pada jenjang SMA/SMK se-Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan pemetaan tersebut, sekolah mengajukan permohonan kepada Kemenag untuk kemudian diterbitkan surat tugas bagi Guru Pendidikan Agama atau Pembina Pendidikan Agama Non Islam guna mengajar di sekolah yang membutuhkan.

    Nurbaity, menyampaikan komitmennya dalam mendukung pelaksanaan kerja sama ini. “Kami siap membantu dan bekerja sama dengan Kemenag Kabupaten Wonosobo sehingga siswa agama Non Islam pada jenjang SMA/SMK mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan keyakinannya,” ungkapnya.

    Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memastikan hak pendidikan agama terpenuhi secara merata dan berkualitas bagi seluruh peserta didik di Kabupaten Wonosobo, tanpa terkecuali.

  • Kemenag Beri Relaksasi Perkuliahan PTKI Terdampak Bencana Alam, Keselamatan dan Hak Belajar Jadi Prioritas

    Kemenag Beri Relaksasi Perkuliahan PTKI Terdampak Bencana Alam, Keselamatan dan Hak Belajar Jadi Prioritas

    Kementerian Agama menetapkan kebijakan relaksasi pelaksanaan perkuliahan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Ditjen Pendidikan Islam tentang Relaksasi Pelaksanaan Perkuliahan pada Masa Bencana Alam Banjir dan Longsor di Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026.

    SE ini ditujukan kepada Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan Koordinator Kopertais Wilayah I–XIV. Terbit pada 1 Desember 2025, kebijakan ini dikeluarkan untuk memastikan proses akademik tetap berjalan sekaligus menjaga keselamatan civitas academica.

    Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menegaskan bahwa situasi bencana telah mengakibatkan sejumlah akses transportasi terputus, gangguan jaringan, hingga kerusakan infrastruktur kampus. Karena itu, diperlukan langkah cepat agar kegiatan akademik tetap dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

    “Kita ingin memastikan hak belajar mahasiswa tetap terpenuhi, tetapi pada saat yang sama keselamatan mereka—dan para dosen—adalah hal yang tidak bisa ditawar. Karena itu, relaksasi akademik adalah pilihan paling rasional dan manusiawi dalam kondisi darurat seperti ini,” ujar Sahiron di Jakarta, Rabu (2/12/2025).

    Relaksasi ini, kata Sahiron, dapat diberikan dalam beberapa bentuk, antara lain: penyesuaian kalender akademik, perubahan metode pembelajaran dengan model yang paling memungkinkan, penyesuaian evaluasi pembelajaran, hingga kelonggaran dalam pemenuhan kehadiran mahasiswa dan dosen.

    Sahiron juga meminta seluruh PTKI melakukan asesmen cepat serta segera menetapkan kebijakan internal yang selaras dengan prinsip fleksibilitas, keselamatan, dan keberlanjutan akademik. PTKI terdampak diminta melaporkan kondisi aktual dan tindak lanjut kebijakan relaksasi kepada Ditjen Pendidikan Islam maupun Kopertais wilayah.

    “Kami berharap kampus-kampus dapat mengambil langkah tepat, terukur, dan sensitif terhadap situasi lokal. Negara hadir melalui kebijakan ini untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan sivitas akademika,” tambahnya.

    Kebijakan relaksasi ini berlaku selama masa tanggap darurat dan akan menyesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

Translate »
Skip to content