Wonosobo (Humas) — Dalam suasana Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menggulirkan gerakan penanaman pohon secara massal sebagai bagian dari penguatan Program Ekoteologi. Kegiatan ini melibatkan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Wonosobo dengan sasaran tempat ibadah lintas agama, lembaga pendidikan formal dan keagamaan, serta pengantin baru melalui program 1 catin 1 pohon.
Penanaman pohon dilaksanakan di berbagai ruang kehidupan umat, mulai dari masjid, musholla, gereja, vihara, hingga lembaga pendidikan seperti TPQ, madrasah diniyah, dan pondok pesantren. Takmir dan pengurus rumah ibadah, para ustadz, kiai, serta santri digerakkan bersama dalam ikhtiar hijau ini. Sementara itu, bagi calon pengantin, penanaman satu pohon buah dilaksanakan setelah akad nikah sebagai simbol awal kehidupan rumah tangga yang berakar pada keberlanjutan dan keberkahan. Sejak 1 Juni 2025, setiap calon pengantin diwajibkan mentasyarufkan satu pohon buah yang dikelola melalui KUA setempat, kemudian diserahkan kepada Kemenag Wonosobo untuk selanjutnya disalurkan kepada ormas keagamaan, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah.
Salah satu titik pelaksanaan kegiatan bakti sosial penanaman pohon dalam rangka HAB ke-80 ini berlangsung pada Kamis (8/1/2026) di Pondok Pesantren Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Bumen, Mojotengah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran KUA Mojotengah, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ketua Seksi Bakti Sosial HAB ke-80 Kankemenag Wonosobo, serta tim Humas Kemenag.
Dalam pesan keagamaannya, Pengasuh Tahfidzul Qur’an Ponpes Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Gus Nanang, mengingatkan bahwa menanam pohon merupakan ajaran luhur Rasulullah SAW. Ia mengutip dawuh Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun tinggal satu hari menjelang kiamat, manusia tetap diperintahkan untuk menanam pohon. Gus Nanang kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 37, yang berisi doa Nabi Ibrahim AS saat menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus agar tetap mendirikan shalat dan dianugerahi rezeki berupa buah-buahan. “Ayat ini mengajarkan bahwa dari tanah yang gersang pun Allah menghadirkan rezeki dan keberkahan. Menanam pohon adalah ikhtiar menghadirkan kehidupan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim,” tuturnya.
Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ahmad Fuadi, menegaskan bahwa gerakan tanam pohon massal ini merupakan implementasi nyata Program Ekoteologi Kementerian Agama. “Ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Menanam pohon bukan hanya kerja ekologis, tetapi juga kerja spiritual yang bernilai amal jariyah dan membawa manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Melalui gerakan tanam pohon massal di momentum HAB ke-80 ini, Kemenag Wonosobo berharap nilai-nilai keagamaan tidak hanya hidup dalam ruang ritual dan simbolik, tetapi juga tumbuh nyata dalam tindakan menjaga alam. Menanam pohon menjadi simbol syukur, harapan, dan komitmen bersama untuk merawat bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta.
#hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo







