Wonosobo (Humas) — Dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menggelar tasyakuran dan doa lintas iman dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) bertempat di Aula PLHUT Kantor Kementerian Haji Kabupaten Wonosobo, dihadiri jajaran pejabat Kankemenag Wonosobo, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo, serta para tokoh lintas agama dari Islam, Hindu, Buddha, Katolik, dan Kristen.
Setiap tokoh agama diberikan ruang untuk memimpin doa sesuai keyakinannya masing-masing. Suasana terasa khidmat sekaligus hangat ketika seluruh hadirin menyimak untaian doa lintas iman yang mengalir bergantian, menghadirkan harmoni dalam perbedaan dan menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang dirawat bersama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada FKUB dan seluruh tokoh agama atas peran aktif dalam menjaga kerukunan umat beragama. Ia mengungkapkan bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Wonosobo mencapai angka 83, sebuah capaian yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
“Capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Wonosobo yang berada pada angka 83 merupakan buah dari kerja bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya peran strategis FKUB dan para tokoh agama. Kerukunan yang terjaga dengan baik akan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan penguatan persatuan di Kabupaten Wonosobo,” ujar Panut. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus mempertahankan nilai toleransi dan kebersamaan yang telah terbangun demi terwujudnya kesatuan dan persatuan di Kabupaten Wonosobo.
Sementara itu, tausiyah kebangsaan disampaikan oleh Ketua FKUB Kabupaten Wonosobo, Zaenal Sukawi, yang mengangkat tema eko-spiritual sistem harmoni kehidupan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa eko-spiritualitas merupakan perpaduan antara ekoteologi dan spiritualitas, sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
“Eko-spiritualitas mengajarkan kita bahwa menjaga harmoni dengan alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab kebangsaan. Dengan kesadaran ekologis dan spiritual yang seimbang, masyarakat multikultural Indonesia dapat melangkah bersama menuju kehidupan berkelanjutan dan Indonesia Emas 2045,” tutur Zaenal Sukawi. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural, multireligius, dan kaya akan kearifan lokal memiliki modal besar untuk merespons tantangan hybrid disruption serta menyiapkan generasi unggul yang siap mengemban amanah masa depan.
Kegiatan tasyakuran dan doa lintas iman ini ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan, sekaligus komitmen bersama untuk terus merawat kerukunan, memperkuat toleransi, dan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
#hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo







