Wonosobo (Humas) — Alam bukan sekadar latar hidup kita, melainkan ayatun bayyinat, tanda-tanda kebesaran Allah yang mengajak manusia untuk merenung, menjaga, dan bersyukur. Hal ini menjadi sorotan dalam Bimbingan Teknis Dakwah Khusus bertajuk Penguatan Wawasan Keagamaan dan Kebangsaan bagi Penceramah Agama Islam se-Kabupaten Wonosobo Tahun 2025, ketika narasumber ketiga, Saiful Amar, dosen UIN Walisongo Semarang, memaparkan moderasi beragama dari perspektif ekoteologi, Kamis (27/11/2025).
Krisis global yang tercatat pada tahun 2024—dari suhu bumi yang memuncak, banjir, kekeringan, hingga polusi, menjadi latar belakang pentingnya pemahaman ini. Menurut Saiful, alam yang sering dilihat sebagai objek eksploitasi manusia mencerminkan krisis moral dan spiritual: kemajuan teknologi membawa kemudahan, namun batas-batas alam kerap diabaikan. Krisis spiritual pun muncul, melemahnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dan menjalankan praktik keagamaan yang berwawasan lingkungan.
Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah fil ardhi, penjaga bumi, yang wajib memelihara alam dan menghindari kerusakan. Saiful mengutip ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Baqarah ayat 29–30 tentang amanah kekhalifahan, Al-A’raf ayat 56 tentang larangan membuat kerusakan, Al-Imran ayat 112 tentang konsekuensi moral, hingga Al-Fatihah ayat 2 yang mengingatkan bahwa Allah adalah Rabb semesta alam—bukan hanya Tuhan bagi manusia, tetapi Tuhan bagi seluruh ciptaan. Saiful menekankan, “Alam ini kita pinjam dari generasi sebelumnya, dan kelak akan kita wariskan kepada generasi berikut. Maka menjaga bumi bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu kita. Apa yang kita ambil dari alam, harus seimbang dengan apa yang kita kembalikan, itulah semangat wasathiyah, moderasi beragama yang menyeimbangkan hak dan tanggung jawab.”
Saiful juga mengingatkan bahwa alam adalah makhluk hidup, sama seperti kita semua. Dengan menjaga kelestariannya, manusia sekaligus menegakkan nilai-nilai keadilan, keseimbangan, dan kasih sayang universal. Moderasi beragama dalam kerangka ekoteologi bukan hanya soal toleransi antar manusia, tetapi juga tentang menjaga harmoni dengan seluruh ciptaan Allah.
Dalam kesempatan ini, para peserta bimtek diajak merenungi hubungan spiritual antara manusia dan alam, sekaligus menyiapkan diri untuk menyebarkan wawasan ini ke masyarakat luas. Dakwah yang mengangkat kesadaran ekologis menjadi bagian dari tanggung jawab moral, spiritual, dan kebangsaan: membimbing umat agar hidup harmonis, damai, dan selaras dengan alam.










