Kategori: Berita

  • Sentuhan Kepedulian HAB ke-80, Kemenag Wonosobo Kawal Pembangunan RTLH

    Sentuhan Kepedulian HAB ke-80, Kemenag Wonosobo Kawal Pembangunan RTLH

    Wonosobo (Humas) — Dalam semangat Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo kembali meneguhkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat. Salah satu wujud nyata kepedulian tersebut diwujudkan melalui pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang tengah berjalan di sejumlah wilayah Kabupaten Wonosobo (20/1/2026).

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo bersama Kepala Seksi dan jajaran Seksi Penyelenggara Zakat dan Wakaf, serta staf Hubungan Masyarakat Kankemenag Wonosobo, turun langsung meninjau tiga lokasi pembangunan RTLH, masing-masing di Desa Mlipak, Penawangan, dan Singkir. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan proses pembangunan berjalan dengan baik serta tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Sebelumnya, dalam rangka memperingati HAB ke-80 Kementerian Agama RI, Kankemenag Kabupaten Wonosobo telah menyalurkan bantuan sebesar Rp75 juta yang dialokasikan untuk pembangunan tiga unit RTLH. Bantuan tersebut diharapkan mampu menghadirkan hunian yang lebih layak, aman, dan manusiawi bagi penerima manfaat.

    Kepala Kankemenag Kabupaten Wonosobo, Panut, menyampaikan bahwa program RTLH ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Wonosobo. “Pembangunan RTLH ini diharapkan dapat menjadi langkah kecil namun bermakna dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta menekan angka kemiskinan,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo atas sinergi yang telah terjalin, khususnya dalam proses pembongkaran rumah. “Terima kasih kepada rekan-rekan BPBD yang telah bersinergi. Semoga bantuan ini benar-benar bermanfaat, program RTLH terus berkembang, dan kesejahteraan masyarakat Wonosobo semakin meningkat,” pungkasnya.

    Melalui program ini, Kementerian Agama tidak hanya hadir sebagai institusi pelayanan keagamaan, tetapi juga sebagai mitra sosial yang terus berupaya menebar manfaat dan harapan bagi masyarakat.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

  • Apel Pagi dan Penyerahan Reward ASN, Kemenag Wonosobo Apresiasi Kinerja dan Disiplin Pegawai

    Apel Pagi dan Penyerahan Reward ASN, Kemenag Wonosobo Apresiasi Kinerja dan Disiplin Pegawai

    Wonosobo (Humas) — Mengawali pekan dengan semangat kebersamaan dan disiplin, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo melaksanakan Apel Pagi sekaligus Penyerahan Reward Aparatur Sipil Negara (ASN) Triwulan IV Tahun 2025, pada Senin (19/1/2026), bertempat di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus apresiasi atas dedikasi dan komitmen para ASN dalam menjalankan tugas pelayanan kepada umat dan masyarakat.

    Apel pagi berlangsung khidmat dan tertib, diikuti oleh seluruh jajaran ASN Kemenag Wonosobo. Tidak sekadar rutinitas seremonial, apel ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai kedisiplinan, integritas, serta etos kerja yang berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, pimpinan juga menyerahkan penghargaan kepada ASN berprestasi sebagai bentuk pengakuan atas kinerja yang konsisten dan patut menjadi teladan.

    Penilaian penerima reward dilakukan secara objektif dan terukur, meliputi aspek kehadiran, kepatuhan dalam penggunaan seragam dinas, keikutsertaan dalam apel pagi dan apel penghormatan, partisipasi dalam kegiatan senam, serta keterlibatan aktif dalam pembinaan rohani dan mental (binrohis). Dari hasil penilaian tersebut, ditetapkan tiga ASN terbaik sebagai penerima penghargaan Triwulan III Tahun 2025.

    Adapun ASN yang terpilih yaitu Terbaik I diraih oleh Sakdiyah, A.Ma, Terbaik II oleh Endah Arifudin, dan Terbaik III oleh Halim Aditya, S.M. Ketiganya dinilai mampu menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta komitmen kerja yang selaras dengan nilai-nilai Kementerian Agama.

    Melalui pemberian reward ini, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo berharap dapat menumbuhkan motivasi dan budaya kerja positif di lingkungan kantor. Apresiasi tidak hanya menjadi penghargaan atas capaian individu, tetapi juga menjadi pemantik semangat kolektif untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional, humanis, dan berdampak bagi masyarakat.

  • Bicara Ekoteologi di Mesir, Menag Jelaskan Peran Agama dan Kemanusiaan di Era AI

    Bicara Ekoteologi di Mesir, Menag Jelaskan Peran Agama dan Kemanusiaan di Era AI

    Menteri Agama Nasaruddin Umar berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir. Konferensi ini digelar Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

    Konferensi dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari. Hadir juga, para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Ikut mendampingi Menteri Agama, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.

    Menag mengawali paparannya dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto. Menag juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya dalam penyelenggaraan konferensi ini.

    Menag lalu membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Menurutnya, tanggung jawab manusia bukan sekadar sarana untuk mencari penghidupan, melainkan berdimensi moral, amanah sosial, dan  kesadaran tentang pentingnya memakmurkan bumi.

    “Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Menag di Mesir, Senin (19/1/2026).

    Dalam Islam, kata Menag, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, memakmurkan bumi tidak akan sempurna tanpa menjaga keseimbangannya. Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban.

    Menag menyambut baik gagasan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban adalah kewajiban Islam. Menag juga sependapat dengan pandangan pemikir Aljazair, Malik bin Nabi, bahwa peradaban bukan semata akumulasi materi, tetapi bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh. Peradaban yang berdiri di atas ikatan manusia, tanah, dan waktu tidak akan berbuah bila tidak dipersatukan oleh dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia, mengendalikan nalurinya, memberi makna pada waktu, dan mengubah tanah dari sekadar bahan mentah menjadi nilai peradaban.

    Karena itu, persoalan keterbelakangan, ketergantungan, dan kekosongan nilai tidak diselesaikan dengan mengimpor produk peradaban yang sudah jadi, atau meniru model-model teknologi yang maju; melainkan diatasi dengan memperbaiki manusia, serta membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja. “Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia—bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” pesan Menag.

    “Jika nilai-nilai hilang, naluri akan bebas tanpa kendali. Dan ketika naluri lepas kendali, manusia kehilangan kompas etiknya,” sambungnya.

    Menjaga Kemanusiaan

    Menag melihat, tantangan yang dihadapi profesi pada era kecerdasan buatan (AI) bukan terletak pada kemajuan algoritma, tetapi pada penjagaan sisi kemanusiaan manusia. Dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, melainkan profesi yang beretika. Tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup. Dari sini, peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja/profesi dalam dunia yang bergerak cepat.

    “Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, kami berupaya meneguhkan pemahaman ini melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat. Dalam konteks ini, kami memberi perhatian khusus pada isu kecerdasan buatan serta kaitannya dengan wacana keagamaan dan otoritas pengetahuan,” papar Menag.

    “Berbagai diskusi ilmiah yang kokoh, melibatkan para ulama dan pemikir besar Indonesia, menegaskan bahwa kecerdasan buatan—sebesar apa pun kemampuan analisisnya—tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. Fungsinya harus tetap berada sebagai alat bantu, bukan sumber mandiri atau pengganti untuk fatwa atau bimbingan keagamaan,” lanjutnya.

    Para pakar, kata Menag, juga menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah agama, melainkan pada bagaimana penggunaan itu diatur dan dikendalikan, sehingga manusia—dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etiknya—tetap memimpin, dan agama tetap menjadi sumber hidayah serta makna, bukan sekadar bahan yang diperas menjadi jawaban-jawaban mekanis. Otoritas keagamaan pada era kecerdasan buatan bukanlah otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral, yang memadukan teks, akal, realitas, dan maqashid syariah, disertai kesadaran mendalam atas transformasi zaman dan pertanyaan-pertanyaan aktual.

    “Dunia kita hari ini tidak kekurangan para ahli, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun keahlian itu. Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, melainkan juga akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang menyeluruh,” pesannya.

    Humas dan Komunikasi Publik

  • Diutus Presiden, Menag ke Mesir Bahas Ekoteologi dan Pembukaan Cabang Al-Azhar di Indonesia

    Diutus Presiden, Menag ke Mesir Bahas Ekoteologi dan Pembukaan Cabang Al-Azhar di Indonesia

    Menteri Agama Nasaruddin Umar bertolak ke Mesir untuk menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto dalam dua agenda strategis, yakni kerja sama pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia, serta menjadi pembicara kunci pada seminar internasional tentang ekoteologi di Universitas Al-Azhar, Kairo.

    “Akan menindaklanjuti petunjuk Bapak Presiden terkait kemungkinan bekerja sama dengan Al-Azhar di Indonesia sebagaimana pernah dibahas dalam pertemuan bilateral beberapa negara Muslim,” ujar Menag sebelum keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Minggu (18/1/2026).

    Menag menilai pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia dapat menjadi solusi efektif bagi mahasiswa Asia Tenggara yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi berbagai tantangan regional untuk belajar di Mesir. “Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,” tutur Menag.

    Selain memperluas akses pendidikan Islam, langkah ini juga dinilai dapat membantu Al-Azhar menghadapi beban pendidikan yang semakin berat. “Mesir sekarang overloaded, selain menanggung pengungsian dalam jumlah besar juga jumlah mahasiswa internasional meningkat, sementara beban ekonominya berat,” jelas Menag.

    Menurut Menag, gagasan pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia mendapat dukungan dari sejumlah negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania.

    Skema kerja sama yang akan dibahas meliputi kemungkinan program dual degree, joint faculty, maupun model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.

    Bicara Ekoteologi di Al-Azhar

    Selain agenda kerja sama pendidikan, Menag juga memenuhi undangan resmi Universitas Al-Azhar untuk menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam seminar internasional bertema ekoteologi. Kehadiran Menag dalam forum tersebut merupakan mandat Presiden RI untuk menyampaikan pandangan Indonesia terkait pendekatan keagamaan dalam pelestarian lingkungan.

    “Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat yang diberikan kepada kita sebagai keynote speech di dalam seminar internasional tentang ekoteologi,” ujar Menag.

    Menag menjelaskan bahwa perhatian dunia terhadap konsep ekoteologi Indonesia terus menguat. Isu ini sebelumnya juga mengemuka dalam forum lintas agama di Vatikan dan mendapat respons positif dari para pemimpin keagamaan internasional. “Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia,” kata Menag. 

    Menag berharap, kunjungan ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam global sekaligus memperluas jangkauan diplomasi pendidikan dan keagamaan Indonesia di tingkat internasional.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Gerakan Wonosobo Asa Cita: Menyemai Harapan, Menguatkan Langkah Anak Bangsa

    Gerakan Wonosobo Asa Cita: Menyemai Harapan, Menguatkan Langkah Anak Bangsa

    Wonosobo (Humas) — Dalam upaya meningkatkan partisipasi pendidikan sekaligus menekan Angka Tidak Sekolah (ATS), Pemerintah Kabupaten Wonosobo menggelar Gerakan Wonosobo Asa Cita, sebuah gerakan kolaboratif yang menghadirkan semangat gotong royong lintas elemen masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa hingga Kamis (13-15/1/2026), di sejumlah satuan pendidikan MTs di Kabupaten Wonosobo.

    Gerakan Wonosobo Asa Cita melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa, serta masyarakat umum sebagai relawan pendidikan. Dengan pendekatan satu relawan satu rombongan belajar, para relawan hadir langsung di ruang-ruang kelas untuk memberikan motivasi, inspirasi, serta penguatan cita-cita kepada para siswa SMP/MTs agar terdorong melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, atau MA. Kehadiran relawan diharapkan mampu menyalakan kembali asa yang sempat redup, serta menumbuhkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan penting menuju masa depan yang lebih baik.

    Dalam kegiatan ini, Penyuluh Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo dari seluruh kecamatan turut ambil bagian secara aktif. Partisipasi tersebut menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui penguatan pendidikan dan pembinaan generasi muda.

    Pada apel pagi di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Kepala Subbagian Tata Usaha, Imron Awaludi, menyampaikan bahwa Gerakan Wonosobo Asa Cita merupakan kegiatan yang sangat positif dan strategis.

    “Kegiatan Gerakan Wonosobo Asa Cita ini sangat positif sebagai bentuk dukungan dan penguatan motivasi bagi para siswa yang mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan. Peran penyuluh sangat penting, karena kehadiran mereka bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa masa depan tetap bisa diraih melalui pendidikan,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa peran penyuluh sangat penting sebagai figur pendamping, pemberi semangat, sekaligus jembatan harapan bagi peserta didik agar tidak berhenti bermimpi dan terus melangkah menata masa depan.

    Melalui Gerakan Wonosobo Asa Cita, diharapkan tumbuh optimisme baru di kalangan peserta didik, bahwa pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan bekal berharga untuk meraih cita-cita dan berkontribusi bagi daerah serta bangsa.

  • Isra Mikraj 1447 H, Menag Ajak Umat Peduli Alam dan Sosial lewat Nilai Salat

    Isra Mikraj 1447 H, Menag Ajak Umat Peduli Alam dan Sosial lewat Nilai Salat

    Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa salat tidak hanya memiliki nilai kesalehan spiritual, tetapi juga memiliki nilai kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kelestarian alam. Penegasan tersebut disampaikan Menag dalam sambutannya menyambut Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M.

    Dalam peristiwa Mikraj, Menag menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu, yang bukan hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia. “Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Menag di Jakarta, Kamis (15/1/2026)

    “Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis,” tegasnya kembali.

    Lebih lanjut, Menag menyoroti prinsip thaharah sebagai syarat sahnya salat. Prinsip ini, menurutnya, mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar. Sementara itu, gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri dalam membangun dan memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

    Menag juga menegaskan bahwa esensi Isra Mikraj menunjukkan Islam sebagai fondasi etika ekologis. Konsep tauhid, lanjutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan (unity of creation), bahwa alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT.

    “Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, sementara menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya,” ujarnya.

    Melalui peringatan Isra Mikraj 1447 H ini, Menag mengajak seluruh umat menjadikannya sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia menilai, krisis lingkungan yang dihadapi saat ini menuntut hadirnya kesalehan yang utuh, yakni kesalehan yang tidak hanya tercermin dalam ketaatan beribadah, tetapi juga dalam sikap menjaga keseimbangan alam dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.

    “Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita ke langit, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.

    “Semoga peringatan Isra Mikraj ini menjadi titik balik bagi kita semua dalam di menguatkan kesalehan spiritual, kesalehan sosial yang menjunjung tinggi keadilan dan kemaslahatan, serta kesalehan ekologi yang diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap kelestarian alam,” tuturnya.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Kemenag Wonosobo Kampanyekan Sekolah Ramah Anak, Tekankan Pencegahan Tiga Dosa Besar Pendidikan

    Kemenag Wonosobo Kampanyekan Sekolah Ramah Anak, Tekankan Pencegahan Tiga Dosa Besar Pendidikan

    Wonosobo (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo terus mengintensifkan kampanye Sekolah Ramah Anak melalui program safari ke sejumlah satuan pendidikan. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan saat upacara bendera di SMP Darussalam Pulungsari, Kecamatan Kaliwiro, Senin (12/1/2026).

    Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kankemenag Wonosobo, Fakih Khusni, bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan amanat Bupati Wonosobo yang menekankan pentingnya mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan ramah anak.

    Dalam amanatnya, Fakih menegaskan bahwa sekolah ramah anak bukan sekadar konsep, melainkan komitmen bersama untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak dalam pendidikan dan bermain. “Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman dan menyenangkan, tempat anak dapat belajar, bermain, serta berkembang tanpa rasa takut,” ujarnya.

    Kampanye tersebut, lanjut Fakih, merupakan bagian dari dukungan Kementerian Agama terhadap kebijakan nasional dan komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk memberantas tiga dosa besar pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan intoleransi. Melalui safari sekolah, Kemenag mendorong seluruh warga satuan pendidikan untuk membangun budaya saling menghormati dan melindungi anak.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam penegasannya menyampaikan bahwa sekolah ramah anak harus ditopang oleh lingkungan belajar yang aman dan inklusif, pendidik yang peduli, kurikulum yang relevan, kegiatan pengembangan diri yang beragam, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.

    “sekolah ramah anak harus disupport dengan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, guru dan staf yang peduli dan mendukung, kurikulum yang relevan dan menarik, serta partisipasi orang tua,” kata Panut.

    Kepala SMP Darussalam, Fatma Maratus Solehah, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyatakan komitmen sekolahnya untuk terus mengembangkan praktik pendidikan yang ramah anak dan berorientasi pada tumbuh kembang peserta didik secara utuh.

    “Kami berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara fisik, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual,” ujarnya.

    Program safari sekolah ini akan terus dilanjutkan ke berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Wonosobo sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan Kantor Kemenag Wonosobo dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan inklusif bagi seluruh anak. Ps-Ws

  • Gerakan Tanam Pohon Massal, Ikhtiar Ekoteologi Kemenag Wonosobo di Momentum HAB ke-80

    Gerakan Tanam Pohon Massal, Ikhtiar Ekoteologi Kemenag Wonosobo di Momentum HAB ke-80

    Wonosobo (Humas) — Dalam suasana Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menggulirkan gerakan penanaman pohon secara massal sebagai bagian dari penguatan Program Ekoteologi. Kegiatan ini melibatkan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Wonosobo dengan sasaran tempat ibadah lintas agama, lembaga pendidikan formal dan keagamaan, serta pengantin baru melalui program 1 catin 1 pohon.

    Penanaman pohon dilaksanakan di berbagai ruang kehidupan umat, mulai dari masjid, musholla, gereja, vihara, hingga lembaga pendidikan seperti TPQ, madrasah diniyah, dan pondok pesantren. Takmir dan pengurus rumah ibadah, para ustadz, kiai, serta santri digerakkan bersama dalam ikhtiar hijau ini. Sementara itu, bagi calon pengantin, penanaman satu pohon buah dilaksanakan setelah akad nikah sebagai simbol awal kehidupan rumah tangga yang berakar pada keberlanjutan dan keberkahan. Sejak 1 Juni 2025, setiap calon pengantin diwajibkan mentasyarufkan satu pohon buah yang dikelola melalui KUA setempat, kemudian diserahkan kepada Kemenag Wonosobo untuk selanjutnya disalurkan kepada ormas keagamaan, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah.

    Salah satu titik pelaksanaan kegiatan bakti sosial penanaman pohon dalam rangka HAB ke-80 ini berlangsung pada Kamis (8/1/2026) di Pondok Pesantren Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Bumen, Mojotengah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran KUA Mojotengah, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ketua Seksi Bakti Sosial HAB ke-80 Kankemenag Wonosobo, serta tim Humas Kemenag.

    Dalam pesan keagamaannya,  Pengasuh Tahfidzul Qur’an Ponpes Fatkhul Mu’in Ali Masykur, Gus Nanang, mengingatkan bahwa menanam pohon merupakan ajaran luhur Rasulullah SAW. Ia mengutip dawuh Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun tinggal satu hari menjelang kiamat, manusia tetap diperintahkan untuk menanam pohon. Gus Nanang kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 37, yang berisi doa Nabi Ibrahim AS saat menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus agar tetap mendirikan shalat dan dianugerahi rezeki berupa buah-buahan. “Ayat ini mengajarkan bahwa dari tanah yang gersang pun Allah menghadirkan rezeki dan keberkahan. Menanam pohon adalah ikhtiar menghadirkan kehidupan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim,” tuturnya.

    Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kankemenag Wonosobo, Ahmad Fuadi, menegaskan bahwa gerakan tanam pohon massal ini merupakan implementasi nyata Program Ekoteologi Kementerian Agama. “Ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Menanam pohon bukan hanya kerja ekologis, tetapi juga kerja spiritual yang bernilai amal jariyah dan membawa manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

    Melalui gerakan tanam pohon massal di momentum HAB ke-80 ini, Kemenag Wonosobo berharap nilai-nilai keagamaan tidak hanya hidup dalam ruang ritual dan simbolik, tetapi juga tumbuh nyata dalam tindakan menjaga alam. Menanam pohon menjadi simbol syukur, harapan, dan komitmen bersama untuk merawat bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta.

    #hab80kemenag #kemenagberdampak #umatrukunsinergi #kemenagri #kemenagjateng #kemenagwonosobo

  • Penyusunan Perkin Tahun 2026; Menyusun Arah, Mengikat Tanggung Jawab Pelayanan Terhadap Masyarakat

    Penyusunan Perkin Tahun 2026; Menyusun Arah, Mengikat Tanggung Jawab Pelayanan Terhadap Masyarakat

    Wonosobo (Humas) — “Penyusunan Perjanjian kinerja bukan hanya rutinitas birokrasi awal tahun. Namun di balik meja rapat, keputusan yang diambil justru menentukan bagaimana sebuah instansi bergerak selama dua belas bulan ke depan.” Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, saat memimpin rapat Penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2026 pagi tadi Selasa, (6/1/2026).

    Rapat yang berlangsung di Aula PLHUT Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Wonosobo tersebut dihadiri sekitar 30 peserta, mencakup unsur pengendali kebijakan hingga pelaksana teknis yaitu Kasubag beserta staf, Kepala Seksi dan Penyelenggara, serta kepala satuan kerja madrasah bersama Kepala Tata Usaha. Komposisi peserta menunjukkan bahwa Perkin tidak disusun sepihak, melainkan dirangkai lintas fungsi.

    Dipimpin oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Wonosobo bersama Kepala Subbagian Tata Usaha, rapat menempatkan Perkin sebagai alat untuk menyelaraskan target individu dengan mandat kelembagaan. Setiap indikator kinerja dibahas agar tidak berhenti sebagai angka di atas kertas, melainkan dapat ditelusuri hingga pada pelaksanaan program.

    Dalam forum ini, Perkin diperlakukan sebagai mekanisme pengikat yang mengikat pimpinan pada arah kebijakan, dan mengikat pelaksana pada capaian yang dapat diukur. Pendekatan tersebut menjadi penanda upaya Kemenag Wonosobo memperkuat disiplin perencanaan sekaligus konsistensi pelaksanaan lebih lagi terkait dengan layanan masyarakat.

    Penyusunan Perkin 2026 menegaskan satu hal, kerja birokrasi tidak hanya soal menjalankan tugas, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan antara perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban. Dari ruang rapat inilah, ritme kerja satu tahun ke depan ditentukan secara tenang, terukur, dan terikat. Ps-Ws

  • Ujian Nasional Kini Juga Ada Di Pesantren

    Ujian Nasional Kini Juga Ada Di Pesantren

    Wonosobo (Humas) – Pagi tadi, Selasa, (6/1/2026) ratusan santri Pondok Pesantren Al Mubarok, Wonosobo, membuka layar ponsel mereka hampir bersamaan. Di ruang-ruang kelas, tidak terlihat lembar soal atau pengawas dengan tumpukan kertas. Simulasi Imtihan Wathani—ujian akhir Pendidikan Diniyah Formal dikerjakan sepenuhnya melalui gawai pribadi dengan jaringan seluler.

    Sebanyak 1.178 santri dari dua jenjang, Wustha dan Ulya, mengikuti simulasi ini. Untuk menghindari kepadatan teknis, pelaksanaan dibagi dua sesi yaitu santri putri pada pagi hari dan santri putra siang harinya. Di setiap kelas, tiga ustadz dan ustadzah bertugas memastikan proses berjalan sesuai prosedur.

    Metode pelaksanaan ini menempatkan pesantren pada mekanisme evaluasi yang tidak berbeda dengan lembaga pendidikan lain yang telah lebih dulu menerapkan ujian berbasis digital. Tidak ada jaringan Wi-Fi terpusat, setiap peserta bergantung pada kestabilan perangkat dan paket data masing-masing.

    Kantor Kementerian Agama (Kantor Kemenag) Kabupaten Wonosobo melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) memantau langsung simulasi tersebut. Kehadiran Kepala Seksi PD Pontren beserta staf, bukan untuk membuka acara seremonial, melainkan mencermati kesiapan teknis yang akan menentukan kelancaran ujian sesungguhnya dalam beberapa hari ke depan.

    “kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan ujian ini bisa berjalan sukses sesuai keinginan, jadi monitoring adalah langkah pasti pengawalan dan pendampingan.” Kata Fakih Khusni, Kepala Seksi PD Pontren.

    Imtihan Wathani sendiri dijadwalkan berlangsung pada 8–10 Januari 2026 untuk jenjang Ulya dan 12–14 Januari 2026 untuk jenjang Wustha. Ujian ini menjadi penentu akhir kelulusan santri Pendidikan Diniyah Formal dan sekaligus pengesahan capaian belajar mereka dalam sistem pendidikan nasional.

    Di Al Mubarok, simulasi ini menjadi potret peralihan dari sistem evaluasi berbasis kepercayaan lembaga menuju pengujian yang sepenuhnya terukur. Tidak hanya kemampuan akademik santri yang diuji, tetapi juga kesiapan pesantren menjalankan standar yang semakin seragam dan terbuka. Ps-Ws

Translate »
Skip to content