Kategori: Berita

  • Menag Tidak Larang Warga Sembelih Hewan Kurban

    Menag Tidak Larang Warga Sembelih Hewan Kurban

    Beredar di media sosial, potongan video yang menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar melarang penyembelihan hewan kurban serta minta untuk menggantinya dengan uang. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar menegaskan bahwa informasi itu  tidak benar.

    Potongan video dengan framing yang mengarah pada disinformasi itu diambil dari pernyataan Menag pada Puncak Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2 April 2026. Potongan video tersebut dikemas dengan judul “Lebaran Kurban, Gk Boleh Nyembelih Hewan, Suruh Ganti Uang” sehingga memicu kesalahpahaman dan disinformasi di tengah masyarakat.

    Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa narasi yang berkembang telah keluar dari konteks pernyataan yang sebenarnya. Menurut Thobib, Menag saat itu menyampaikan gagasan pengelolaan ibadah penyembelihan hewan kurban yang lebih tertata agar memberi manfaat lebih luas bagi umat, bukan untuk mengganti atau menghapus praktik ibadahnya.

    “Pernyataan Menag harus dipahami secara utuh, bahwa yang dibicarakan adalah gagasan awal pengelolaan agar lebih tertata dan memberi manfaat luas. Itu bukan berarti mengganti praktik ibadah yang sudah berjalan,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).

    “Tidak ada pernyataan Menag yang melarang praktik penyembelihan hewan kurban. Kementerian Agama memastikan praktik ibadah tetap berjalan seperti biasa,” tegasnya.

    Ia menambahkan, dalam gagasan tersebut, terdapat opsi kemudahan bagi masyarakat yang ingin menyerahkan pelaksanaan ibadah penyembelihan hewan kurban kepada lembaga profesional, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) atau lembaga resmi lainnya.

    “Bagi masyarakat yang menginginkan kemudahan, dapat menyerahkan hewan kurban kepada lembaga profesional seperti Baznas atau memberikan dana senilai hewan kurban yang disediakan oleh Baznas. Selanjutnya, proses penyembelihan dan pendistribusian dilakukan secara profesional oleh Baznas pusat maupun Baznas daerah,” imbuhnya.

    Pengelolaan kurban oleh Baznas, lanjutnya, didukung fasilitas rumah potong hewan (RPH) yang profesional dan memenuhi standar. Proses penyembelihan dilakukan secara higienis, sesuai syariat, serta memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan hewan. Dengan demikian, kualitas daging lebih terjamin dan distribusinya tepat sasaran berdasarkan pendataan terintegrasi.

    “Bagi masyarakat yang ingin menyembelih hewan kurban secara mandiri atau kelompok sebagaimana biasa, juga tidak dilarang,” tandas Thobib.

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Penyerahan Reward ASN Kemenag Wonosobo, Nyalakan Semangat Baru dalam Pelayanan

    Penyerahan Reward ASN Kemenag Wonosobo, Nyalakan Semangat Baru dalam Pelayanan

    Wonosobo (Humas) – Pagi itu, halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menjadi saksi berkumpulnya semangat dan pengabdian para aparatur, Kamis (23/4/2026). Tidak sekadar rutinitas, apel pagi kali ini menjelma menjadi ruang refleksi sekaligus panggung apresiasi dalam kegiatan Penyerahan Reward Aparatur Sipil Negara (ASN) Triwulan I Tahun 2026.

    Dalam suasana yang khidmat, para ASN mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian. Momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap pengabdian, sekecil apa pun, memiliki arti penting dalam menghadirkan pelayanan terbaik bagi umat dan masyarakat. Dedikasi yang terus dirawat menjadi fondasi kuat dalam menjaga kepercayaan publik.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemberian reward bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk dorongan untuk terus meningkatkan kinerja. Ia berpesan agar para penerima tidak cepat berpuas diri.

    “Dengan adanya pembagian reward ini, terlebih kepada para penerima, agar besok menjadi lebih giat lagi. Jangan ‘mletre’. Dan semoga ini bisa menjadi motivasi bagi ASN yang lain,” ungkapnya.

    Adapun ASN yang terpilih yaitu Terbaik I diraih oleh Yuli Suroso, S.E., Terbaik II oleh Romadlon, S.Kom., dan Terbaik III oleh Setiyo Witoro, S.E. Ketiganya dinilai mampu menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta komitmen kerja yang selaras dengan nilai-nilai Kementerian Agama.

    Lebih dari sekadar penghargaan, momentum ini diharapkan menjadi titik nyala yang menumbuhkan semangat kolektif, menginspirasi kinerja yang lebih optimal, serta memperkuat komitmen pelayanan yang tulus. Sebab pada akhirnya, pengabdian ASN bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga menghadirkan makna dalam setiap pelayanan yang diberikan.

  • Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

    Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

    Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial terkait rencana pemerintah membentuk dan mengelola rekening kas masjid adalah tidak benar (hoaks).

    “Kementerian Agama Republik Indonesia tidak pernah mengeluarkan kebijakan maupun rencana terkait pengambilalihan pengelolaan dana kas masjid,” tegas Kepala Biro HKP Kemenag Thobib Al-Asyhar di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

    Thobib menjelaskan,  meme maupun video  yang beredar di media sosial yang menampilkan foto Menag Nasaruddin Umar disertai tulisan “Pembentukan rekening kas masjid yang nanti akan dikelola pemerintah” merupakan bentuk disinformasi.

    “Informasi tersebut sengaja dibuat untuk menimbulkan kegaduhan. Maka dengan ini kami menegaskan, bahwa Menag tidak pernah berbicara soal Rekening Kas Masjid sebagaimana framing konten yang viral tersebut,” papar Thobib.

    “Pengelolaan kas masjid tetap menjadi kewenangan masing-masing pengurus masjid. Kas masjid dikelola oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau takmir masjid sesuai prinsip kemandirian dan kepercayaan jamaah,” sambungnya.

    Thobib Al Asyhar menambahkan, Kementerian Agama justru terus mendorong pengelolaan masjid yang profesional, transparan, dan akuntabel oleh DKM atau pengurus masjid, tanpa intervensi dalam bentuk penguasaan dana oleh pemerintah.

    Thobib Al Asyhar mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta selalu melakukan pengecekan melalui kanal resmi pemerintah.

    “Mari senantiasa bijak dalam menerima informasi. Pastikan kebenaran setiap informasi hanya melalui situs web resmi Kementerian Agama dan akun media sosial resmi Kemenag RI,” ujar Thobib Al Asyhar .

    Biro Humas dan Komunikasi Publik

  • Jejak Pengabdian yang Tuntas: Pelepasan Purna Tugas di Kemenag Wonosobo

    Jejak Pengabdian yang Tuntas: Pelepasan Purna Tugas di Kemenag Wonosobo

    Wonosobo (Humas) — Tidak semua perpisahan diwarnai kesedihan. Sebagian hadir dengan rasa hormat yang mendalam dan kenangan pengabdian yang panjang. Itulah yang terasa pada apel pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Selasa (31/3/2026), ketika satu nama dilepas dalam balutan penghargaan atas dedikasi yang telah ditunaikan.

    Dalam momen tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, secara langsung menyerahkan Surat Keputusan (SK) purna tugas kepada Achmad Zuhri, pengadministrasi perkantoran pada KUA Kecamatan Watumalang. Prosesi berlangsung khidmat, menjadi penanda berakhirnya masa dinas sekaligus awal dari babak kehidupan yang baru.

    Di hadapan seluruh peserta apel, Panut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang tulus atas pengabdian yang telah ditorehkan.

    “Kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian yang telah diberikan. Apa yang telah dilakukan bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjadi bagian dari perjalanan pelayanan kepada masyarakat. Semoga segala amal baik menjadi nilai ibadah dan membawa keberkahan. Dan semoga bisa menjadi pensiunan yang husnul khatimah,” ungkapnya.

    Ia juga berharap, meskipun telah memasuki masa purna tugas, silaturahmi yang telah terjalin tetap terjaga, dan semangat pengabdian dapat terus hidup dalam bentuk yang berbeda di tengah masyarakat.

    Sementara itu, Achmad Zuhri dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kebersamaan yang telah dilalui selama masa dinas. Dengan penuh kerendahan hati, ia juga memohon maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat kekurangan.

    “Saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan dukungan selama ini. Mohon maaf apabila dalam perjalanan pengabdian masih banyak kekurangan dan kekhilafan,” tuturnya singkat namun penuh makna.

    Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pengabdian memiliki waktunya, dan setiap akhir adalah awal dari perjalanan baru. Dengan suasana yang sarat haru, seluruh peserta apel turut memberikan penghormatan, mengiringi langkah purna tugas dengan doa dan harapan terbaik.

    Pelepasan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan atas perjalanan panjang seorang abdi negara, yang telah menorehkan jejak pengabdian, dan kini menutupnya dengan penuh kehormatan.

  • Menggema di Dunia Digital, Penyuluh Wonosobo Diganjar Apresiasi

    Menggema di Dunia Digital, Penyuluh Wonosobo Diganjar Apresiasi

    Wonosobo (Humas) — Semangat Ramadan yang baru saja berlalu masih terasa hangat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo. Dalam satu rangkaian kegiatan halalbihalal, Senin (30/3/2026), Kemenag Wonosobo memberikan penghargaan kepada para penyuluh agama Islam yang telah berkontribusi aktif dalam program Mimbar Ramadan 1447 H/2026 M—sebuah gerakan dakwah digital yang menjangkau hati masyarakat melalui layar.

    Program Mimbar Ramadan merupakan inisiatif Kemenag Wonosobo yang dilaksanakan sepanjang bulan suci Ramadan, sebagai media dakwah kreatif yang menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui platform digital. Kegiatan ini diikuti oleh 30 penyuluh agama Islam yang berasal dari 15 Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Wonosobo, menghadirkan beragam konten keagamaan yang edukatif, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Selama satu bulan penuh, para penyuluh berperan aktif menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan pendekatan yang segar dan komunikatif. Dari sekian banyak karya yang dihasilkan, dipilih penyuluh terbaik 1, 2, dan 3 berdasarkan kualitas konten video yang meliputi kesesuaian tema yang telah ditetapkan, penguasaan materi, kemampuan public speaking, serta kualitas audio visual.

    Tak hanya itu, penghargaan Best Famous Penyuluh Agama Islam juga diberikan kepada penyuluh dengan tingkat respons masyarakat tertinggi. Indikatornya meliputi jumlah penonton (viewer), tanda suka (like), serta interaksi berupa komentar pada konten yang diunggah melalui media sosial resmi Kemenag Wonosobo—menjadi bukti bahwa dakwah yang disampaikan mampu diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

    Sebagai bentuk penghargaan yang inklusif, seluruh penyuluh agama Islam yang terlibat juga menerima apresiasi sebagai kontributor program Mimbar Ramadan 1447 H/2026 M. Sertifikat penghargaan diserahkan sebagai wujud terima kasih atas dedikasi, partisipasi aktif, serta kontribusi nyata dalam memberikan layanan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat selama bulan suci.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, menyampaikan bahwa program ini menjadi salah satu bukti bahwa penyuluh agama mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi dakwah itu sendiri.

    “Apa yang telah ditunjukkan para penyuluh melalui Mimbar Ramadan ini bukan sekadar karya, tetapi wujud nyata pengabdian. Di tengah perkembangan zaman, dakwah harus mampu hadir dengan cara yang lebih adaptif, menyentuh, dan relevan. Saya berharap semangat ini terus dijaga, bahkan ditingkatkan, sebagai bagian dari upaya kita memberikan pencerahan kepada masyarakat,” ungkapnya.

    Ia juga menegaskan bahwa penghargaan ini bukan semata tentang siapa yang terbaik, tetapi sebagai bentuk motivasi bersama agar seluruh penyuluh terus berkembang dan berinovasi dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan.

    Momen pemberian apresiasi ini menjadi penutup yang manis dalam rangkaian kegiatan, sekaligus pengingat bahwa setiap upaya kebaikan, sekecil apa pun, layak untuk dihargai. Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas yang terus tumbuh, diharapkan para penyuluh agama Islam di Kabupaten Wonosobo dapat semakin berperan aktif dalam membimbing dan menginspirasi masyarakat di era yang terus bergerak dinamis.

  • Merajut Maaf, Menyulam Semangat Baru: Halalbihalal Kemenag Wonosobo Penuh Kehangatan

    Merajut Maaf, Menyulam Semangat Baru: Halalbihalal Kemenag Wonosobo Penuh Kehangatan

    Wonosobo (Humas)  — Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo pada Senin (30/3/2026). Di hari pertama masuk kerja pasca libur Idulfitri dan kebijakan Work From Anywhere (WFA), keluarga besar Kankemenag Wonosobo menggelar kegiatan halalbihalal sebagai ruang temu yang sarat makna, mempererat silaturahmi, sekaligus meneguhkan kembali semangat pengabdian.

    Di tengah suasana yang masih kental dengan nuansa lebaran, senyum dan sapa saling bersahutan. Satu per satu langkah berpadu dalam satu tujuan: membuka lembaran baru dengan hati yang bersih dan semangat yang diperbarui.

    Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pejabat di lingkungan Kankemenag Wonosobo, Kepala Kantor Kementerian Haji Kabupaten Wonosobo beserta staf, para Kepala Madrasah, Kepala KUA, Pengawas PAI dan Madrasah, serta seluruh pegawai Kankemenag Wonosobo. Kebersamaan lintas unsur ini menjadi cerminan harmoni dan sinergi yang senantiasa terjaga dalam memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

    Dalam amanatnya, Panut mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan momentum Idulfitri sebagai titik balik menuju pribadi yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya refleksi diri setelah menjalani berbagai dinamika tugas dan pelayanan.

    “Halalbihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang batin untuk saling membuka pintu maaf dan memperbarui niat. Dari sini kita memulai langkah baru—dengan hati yang lebih lapang, semangat yang diperbarui, serta komitmen untuk memberikan pelayanan yang semakin berkualitas kepada masyarakat,” ungkapnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan integritas yang terbangun selama Ramadan hendaknya terus dirawat dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai Aparatur Sipil Negara.

    Lebih dari sekadar tradisi, halalbihalal menjadi ruang refleksi—tempat di mana ego diluruhkan, kesalahan dimaafkan, dan harapan baru ditumbuhkan. Suasana haru pun tak terelakkan saat seluruh peserta saling berjabat tangan, menyampaikan maaf dengan tulus tanpa sekat.

    Menambah semarak kegiatan, pada kesempatan tersebut juga diberikan reward dan apresiasi kepada para penyuluh agama Islam yang telah menunjukkan dedikasi dan kontribusi terbaiknya dalam program Mimbar Ramadan 1447 H/2026 M. Program yang berlangsung sepanjang bulan suci itu menjadi salah satu wujud nyata kehadiran penyuluh di tengah masyarakat, menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan penuh ketulusan. Momen ini menjadi simbol penghargaan atas kerja-kerja sunyi yang berdampak nyata di tengah masyarakat.

    Halalbihalal ini pun bukan sekadar penanda usainya Ramadan, melainkan awal dari langkah baru. Dengan hati yang telah disucikan oleh maaf, seluruh jajaran Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo diharapkan mampu melanjutkan pengabdian dengan energi yang lebih segar—menghadirkan pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.

    Sebab pada akhirnya, dari ruang sederhana bernama silaturahmi inilah, kekuatan besar itu tumbuh: kebersamaan yang menggerakkan, dan keikhlasan yang menguatkan.

  • Lebaran Berjalan, Layanan Tak Tertinggal: Kemenag Wonosobo Seimbangkan Akad dan Dakwah Digital

    Lebaran Berjalan, Layanan Tak Tertinggal: Kemenag Wonosobo Seimbangkan Akad dan Dakwah Digital

    Wonosobo (Humas) — Saat sebagian besar aktivitas melambat karena libur dan perayaan, layanan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo justru tetap bergerak. Dua wajah pelayanan tampil beriringan: kepastian akad nikah di hari raya dan penyuluhan keagamaan yang tetap menjangkau publik.

    Menjelang Idul Fitri, tepatnya pada 16–17 Maret saat kebijakan work from anywhere (WFA) diberlakukan dan beririsan dengan libur Nyepi, Kemenag tidak menghentikan layanan. Melalui program *Mimbar Ramadan*, penyuluhan agama tetap berjalan secara digital. Sedikitnya 30 topik disampaikan sepanjang Ramadan hingga menjelang hari raya, mengisi ruang publik dengan materi keislaman yang praktis dan kontekstual.

    Namun penekanan layanan tidak berhenti di ruang maya.

    Memasuki Idul Fitri, terutama sejak hari kedua, ritme layanan beralih ke lapangan. Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai wilayah mencatat lonjakan pelaksanaan akad nikah. Banyak pasangan memilih momentum Lebaran sebagai waktu pernikahan, saat keluarga besar berkumpul dan suasana dinilai paling sakral.

    Di titik ini, integritas layanan diuji.

    Penghulu tetap hadir di lokasi akad, memastikan setiap prosesi berjalan sesuai ketentuan—baik secara syariat maupun administrasi negara. Di saat banyak pihak menikmati libur, petugas KUA justru berada di tengah masyarakat, menjalankan tugas tanpa penundaan.

    Sistem pendukung ikut memastikan kelancaran. Pemanfaatan *SIMKAH* menjaga akurasi data dan jadwal, sementara koordinasi antarpetugas berlangsung fleksibel, menyesuaikan kondisi lapangan.

    Keseimbangan inilah yang menjadi kunci. Di satu sisi, penyuluh agama mengisi ruang kesadaran publik selama Ramadan. Di sisi lain, penghulu memastikan layanan paling mendasar—pernikahan—tetap terlaksana tepat waktu, bahkan di puncak hari raya.

    Bagi masyarakat, keduanya bukan sekadar program, melainkan pengalaman langsung. Ketika akad tetap berlangsung tanpa hambatan, dan pesan keagamaan tetap hadir menjelang Idul Fitri, kepercayaan publik terbentuk secara alami.

    Momentum ini memperlihatkan satu hal sederhana namun kuat: pelayanan tidak berhenti pada kalender. Ia berjalan mengikuti kebutuhan masyarakat—baik sebelum maupun sesudah hari raya.

  • WFA Berlaku, Layanan Tak Beku: Kemenag Wonosobo Pastikan Layanan Masyarakat Tetap Jalan

    WFA Berlaku, Layanan Tak Beku: Kemenag Wonosobo Pastikan Layanan Masyarakat Tetap Jalan

    Wonosobo (Humas) – Kebijakan work from anywhere (WFA) yang berlaku pada 25–27 Maret tidak membuat layanan publik di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo kehilangan denyutnya. Di tengah penyesuaian pola kerja aparatur sipil negara, institusi ini justru menunjukkan ketahanan sistem layanan terutama pada sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat yakni pencatatan pernikahan.

    Alih-alih melambat, layanan tetap bergerak dengan pola yang lebih adaptif. Sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai daerah memastikan bahwa jadwal akad nikah yang telah terdaftar tidak mengalami penundaan. Petugas penghulu tetap hadir, baik di kantor maupun di lokasi akad, mengikuti mekanisme kerja fleksibel yang telah diatur sebelumnya.

    Tercatat pada hari kedua WFA berlangsung, Kamis (26/3/2026) beberapa permohonan nikah dilaksanakan hampir diwaktu yang bersamaan di berbagai daerah di Wonosobo.

    Di lapangan, strategi yang diterapkan terlihat sederhana namun efektif, pembagian jadwal petugas, pemanfaatan layanan digital seperti Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), serta koordinasi lintas unit yang tetap berjalan melalui kanal daring. Hasilnya, masyarakat nyaris tak merasakan perubahan signifikan.

    Bagi calon pengantin, kepastian layanan ini menjadi faktor krusial. Pernikahan bukan sekadar agenda administratif, melainkan peristiwa sakral yang telah direncanakan jauh hari. Ketepatan layanan KUA di tengah kebijakan WFA menjadi indikator bahwa layanan pemerintah hadir tanpa jeda.

    Menariknya, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai ajang pembuktian reformasi birokrasi yang selama ini digaungkan Kemenag. Digitalisasi layanan yang sebelumnya dianggap pelengkap, kini menjadi tulang punggung operasional. WFA seolah mempercepat transisi dari birokrasi berbasis meja menjadi birokrasi berbasis sistem.

    Dalam kacamata komunikasi publik, langkah ini memberi pesan yang tegas, fleksibilitas kerja tidak identik dengan penurunan kualitas layanan. Sebaliknya, ia dapat menjadi katalis untuk meningkatkan efisiensi dan responsivitas.

    Kemenag tampaknya memahami betul bahwa citra lembaga dibangun bukan dari slogan, melainkan dari pengalaman langsung masyarakat. Ketika layanan pernikahan tetap berjalan lancar di tengah skema kerja yang berubah, kepercayaan publik pun terjaga.

    Pada akhirnya, kebijakan WFA bukan sekadar soal di mana pegawai bekerja. Ini tentang bagaimana instansi pemerintah memastikan pelayanan tetap hadir, bahkan ketika pola kerja berubah. Ps-Ws

  • Alihkan 3.531 ASN ke Kemenhaj, Kemenag Dukung Sukses Haji

    Alihkan 3.531 ASN ke Kemenhaj, Kemenag Dukung Sukses Haji

    Jakarta (Kemenag) — Kementerian Agama telah mengalihkan 3.531 pegawai sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Sekjen Kemenag, Kamaruddin Amin, mengatakan bahwa proses ini sebagai bentuk dukungan Kemenag bagi sukses penyelenggaraan haji 2026.

    “Data kami, sampai hari ini sudah ada 3.531 ASN Kemenag yang pindah ke Kementerian Haji dan Umrah. Ini bagian upaya kami mewujudkan komitmen Menteri Agama untuk menyukseskan penyelenggaraan haji 2026,” tegas Kamaruddin Amin di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

    “Proses peralihan kepegawaian berjalan sesuai ketentuan. Tidak ada niat kami di Kementerian Agama untuk menghambat proses tersebut. Karena komitmen kami juga turut menyukseskan haji 2026,” sambungnya.

    Kepala Biro SDM Kementerian Agama Wawan Djunaedi merinci bahwa proses pengalihan SDM Kemenag ke Badan Penyelenggara Haji atau BPH (sekarang Kementerian Haji dan Umrah) sudah berlangsung sejak November 2024. Saat itu, Kemenag menginisiasi rapat koordinasi antara Badan Kepegawaian Negara (BKN), BPH, termasuk juga Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk membahas mekanisme pengalihan SDM.

    Rapat koordinasi itu, kata Wawan, menyepakati dua hal. Pertama, proses alih status ASN menggunakan sistem pengalihan, bukan mutasi. “Rapat koordinasi dengan BKN menyepati prosesnya menggunakan sistem pengalihan, bukan mutasi. Dengan demikian, syaratnya lebih simpel dan prosesnya bisa lebih cepat,” kata Wawan Djunaedi.

    Kebijakan pengalihan didasarkan pada Peraturan Menpan RB Nomor Nomor 15 Tahun 2024, sehingga pengalihan pegawai kementerian yamg terdampak penggabungan atau pemecahan kementerian/lembaga bisa dilaksakana secara lebih efektif dan transparan. “Namun mekanisme pengalihan hanya bisa dilaksanakan sampai akhir Desember 2025 saja,” tegas Wawan.

    Hal kedua yang disepakati dalam rapat koordinasi adalah proses pengalihan SDM dilakukan secara “bedol desa”. Maksudnya, seluruh pegawai dengan tusi haji akan dialihkan ke BPH dan seluruh pegawai dengan tusi Jaminan Produk Halal (JPH) akan dialihkan ke BPJPH.

    “Alhamdulillah, ada 23 pegawai Kemenag yang dialihkan ke Kemenhaj ketika masih berstaus BPH,” papar Wawan

    Untuk pengalihan pegawai yang lain ke BPH (Kemenhaj), prosesnya berjalan lebih lama. Selain jumlahnya banyak, BPH menyeleksi kembali pegawai Kemenag yang akan dialihkan. Hingga hari ini, tercatat sudah ada 3.531 pegawai Kemenag yang beralih ke Kemenhaj.

    “Menteri Agama juga menyetujui pegawai Kemenag yang sebelumnya bukan tusi haji untuk dialihkan ke Kemenhaj. Namun, jika ada pegawai bukan tusi haji dan perannya masih sangat dibutuhkan di Kementerian Agama, maka usul pengalihannya belum dapat disetujui,” sebut Wawan Djunaidi.

    Wawan menambahkan, pihaknya telah menginisiasi pembentukan tim gabungan antara Biro SDM Kemenag dan Biro SDM Kemenhaj. Tujuannya, untuk mengakselerasi proses peralihan pegawai. Apalagi, masa operasional haji 2026 juga sudah semakin dekat.

    “Tugas tim gabungan untuk menyisir data usulan pegawai tidak redundan. Sebab kami menemukan sejumlah nama yang diusulkan lebih dari sekali oleh Kemenhaj,” tutup Wawan Djunaedi.

  • Dari Resiliensi Birokrasi Menuju Transformasi Edukasi

    Dari Resiliensi Birokrasi Menuju Transformasi Edukasi

    Wonosobo (Humas) – Bagi lebih dari 200 guru Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, jalan menuju hari ini sama terjalnya dengan tanjakan di lereng Dieng. Bukan hanya tentang menempuh jalur berkelok menuju 173 madrasah yang tersebar di 15 kecamatan, tetapi juga tentang “pendakian” administratif yang menguras energi dan kesabaran. Hari ini, Rabu (11/2/2026) di Aula MAN 2 Wonosobo, tawa lega pun pecah saat prosesi pelantikan dan kenaikan pangkat digelar secara virtual bersama Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Tengah—menandai konklusi manis dari perjuangan panjang yang tak sederhana.

    Di balik seragam rapi yang dikenakan, tersimpan kisah tentang malam-malam menyusun karya ilmiah, kebingungan beradaptasi dengan sistem PMM dan regulasi yang terus berkembang, ketegangan menghadapi UKKJ yang tak semua orang mampu lalui, hingga upaya mengakselerasi angka kredit di sela-sela padatnya jam mengajar. Setiap berkas yang dilengkapi dan setiap tahapan validasi yang dilewati menjadi bukti resiliensi mereka dalam menaklukkan bukan hanya kontur geografis Wonosobo yang menantang, tetapi juga labirin administrasi yang kompleks.

    Kenaikan pangkat ini bukan sekadar formalitas atau selebrasi jabatan. Ia adalah legitimasi atas dedikasi dan konsistensi para guru dalam menjaga kualitas pendidikan di tengah berbagai fase transisi. Meski tersebar di wilayah perbukitan dengan akses yang tak selalu mudah, fokus mereka pada pembinaan dan pendidikan anak bangsa tak pernah terdegradasi.

    Namun, eskalasi karier ini tidak berhenti pada terbitnya SK. Esensi sesungguhnya adalah dampak nyata bagi anak-anak di 173 Madrasah se-Wonosobo. Kenaikan pangkat ini menuntut:

    • Integritas Tanpa Kompromi: Menjadi teladan (role model) bagi rekan sejawat dalam etika dan dedikasi.
    • Inovasi Edukasi: Bukan sekadar mengajar, tapi menciptakan metodologi baru yang relevan dengan masa depan siswa.
    • Transformasi Karakter: Mencetak generasi yang lebih berkualitas dari lereng perbukitan Wonosobo.

    Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak semata diukur dari tinggi rendahnya pangkat, melainkan dari seberapa besar dampaknya dalam mengubah masa depan anak didik.

    Selamat kepada Bapak dan Ibu Guru yang telah melalui ketatnya validasi PMM, UKKJ, dan karya ilmiah. Jadikan capaian ini sebagai energi baru untuk terus mengakselerasi mutu pendidikan. Kabut dingin Wonosobo menjadi saksi bahwa di balik setiap pangkat, ada perjuangan yang tak pernah surut.

    #KemenagWonosobo #GuruHebat #CeritaGuru #WonosoboHariIni

Translate »
Skip to content