Wonosobo (Humas) — Saat sebagian besar aktivitas melambat karena libur dan perayaan, layanan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo justru tetap bergerak. Dua wajah pelayanan tampil beriringan: kepastian akad nikah di hari raya dan penyuluhan keagamaan yang tetap menjangkau publik.

Menjelang Idul Fitri, tepatnya pada 16–17 Maret saat kebijakan work from anywhere (WFA) diberlakukan dan beririsan dengan libur Nyepi, Kemenag tidak menghentikan layanan. Melalui program *Mimbar Ramadan*, penyuluhan agama tetap berjalan secara digital. Sedikitnya 30 topik disampaikan sepanjang Ramadan hingga menjelang hari raya, mengisi ruang publik dengan materi keislaman yang praktis dan kontekstual.
Namun penekanan layanan tidak berhenti di ruang maya.
Memasuki Idul Fitri, terutama sejak hari kedua, ritme layanan beralih ke lapangan. Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai wilayah mencatat lonjakan pelaksanaan akad nikah. Banyak pasangan memilih momentum Lebaran sebagai waktu pernikahan, saat keluarga besar berkumpul dan suasana dinilai paling sakral.
Di titik ini, integritas layanan diuji.
Penghulu tetap hadir di lokasi akad, memastikan setiap prosesi berjalan sesuai ketentuan—baik secara syariat maupun administrasi negara. Di saat banyak pihak menikmati libur, petugas KUA justru berada di tengah masyarakat, menjalankan tugas tanpa penundaan.

Sistem pendukung ikut memastikan kelancaran. Pemanfaatan *SIMKAH* menjaga akurasi data dan jadwal, sementara koordinasi antarpetugas berlangsung fleksibel, menyesuaikan kondisi lapangan.
Keseimbangan inilah yang menjadi kunci. Di satu sisi, penyuluh agama mengisi ruang kesadaran publik selama Ramadan. Di sisi lain, penghulu memastikan layanan paling mendasar—pernikahan—tetap terlaksana tepat waktu, bahkan di puncak hari raya.
Bagi masyarakat, keduanya bukan sekadar program, melainkan pengalaman langsung. Ketika akad tetap berlangsung tanpa hambatan, dan pesan keagamaan tetap hadir menjelang Idul Fitri, kepercayaan publik terbentuk secara alami.
Momentum ini memperlihatkan satu hal sederhana namun kuat: pelayanan tidak berhenti pada kalender. Ia berjalan mengikuti kebutuhan masyarakat—baik sebelum maupun sesudah hari raya.











