Wonosobo (Humas) – Di Dusun Cengklok, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, pembangunan tidak hanya diukur dari terbukanya akses jalan. JALISU (Jalan Lingkar Sumbing) yang mulai membelah lanskap perbukitan membawa harapan baru bagi konektivitas dan potensi wisata. Namun di saat yang sama, ia juga menyisakan satu pertanyaan mendasar, bagaimana memastikan pembangunan tidak berhenti pada infrastruktur, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan alam yang menopangnya?
Pertanyaan itu dijawab dengan cara yang sederhana namun terarah oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Wonosobo melalui kegiatan Tegak Karya Manunggal (TKM). Bersama Pramuka Penegak Gudep 121/122 Wirosobo–Nyai Ageng Sobo, madrasah ini menanamkan makna kepedulian lingkungan lewat aksi nyata, penyerahan dan penanaman 100 bibit pohon keras dengan tinggi rata-rata minimal dua meter di area sekitar jalur JALISU.
Langkah ini bukan sekadar simbolik. Di kawasan yang tengah bertransformasi akibat pembangunan jalan, vegetasi menjadi elemen yang kerap terpinggirkan. Padahal, di wilayah lereng seperti Sumbing, keberadaan pohon bukan hanya soal estetika, melainkan penyangga ekosistem, menahan erosi, menjaga cadangan air, sekaligus memastikan lanskap tetap layak dihuni dan dikunjungi.
Di titik inilah konsep ekoteologi menemukan bentuknya. Bukan lagi wacana di ruang kelas, tetapi praktik yang membumi. Alam tidak diposisikan sebagai objek yang dieksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga. Penanaman pohon menjadi cara sederhana untuk menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tindakan nyata.
Berbeda dengan kegiatan penghijauan yang kerap berhenti pada seremoni, keterlibatan siswa dalam TKM menghadirkan dimensi lain. Mereka tidak sekadar menanam, tetapi memahami konteksnya, bahwa setiap bibit yang ditanam berada di ruang yang sedang berubah. Ada pembangunan yang berjalan, dan di saat yang sama, ada tanggung jawab untuk merawat keseimbangan.
Menurut Ngadiyana, Kagudep MAN 1 Wonosobo, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang lebih luas sekaligus gerakan nyata yang sedang dibangun madrasah.
“Kami tidak ingin penghijauan ini berhenti di satu kegiatan. Saat ini MAN 1 Wonosobo sedang menggerakkan program penghijauan yang lebih besar, bekerja sama dengan perusahaan di Jakarta melalui dana CSR untuk pengadaan ribuan bibit pohon yang sasarannya dari Dieng sampai dengan Cilacap. Apa yang kami lakukan hari ini, 100 bibit pohon keras adalah langkah awal. Dari langkah kecil ini, kami ingin memastikan ada keberlanjutan,” ujarnya.
Pernyataan ini memperlihatkan arah yang lebih jelas, bahwa kegiatan hari ini bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari desain yang lebih panjang. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai, tetapi juga tentang konsistensi tindakan.
Di tengah geliat pembangunan JALISU sebagai penopang ekonomi baru, langkah seperti ini menghadirkan keseimbangan narasi. Bahwa pertumbuhan tidak harus mengorbankan lingkungan. Justru, keberhasilan pembangunan akan ditentukan oleh sejauh mana ia mampu berdampingan dengan alam.
Bagi masyarakat Cengklok, dampaknya mungkin belum terasa dalam waktu dekat. Pohon tidak tumbuh dalam semalam. Namun di balik itu, ada proses yang sedang dimulai, sebuah upaya menjaga agar perubahan yang datang tidak menggerus apa yang sudah ada.
Seratus bibit pohon mungkin tampak kecil di tengah bentang alam Sumbing. Tetapi dari situlah arah dibangun, bahwa menjaga lingkungan bukan dimulai dari skala besar, melainkan dari kesadaran yang konsisten.
Dan di jalur yang baru dibuka itu, bukan hanya jalan yang sedang dibangun, tetapi juga cara pandang.
Ps-ws








