Wonosobo (Humas) — Dusun Cengklok, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, bukan sekadar titik di peta. Ia adalah potret kecil ketimpangan, wilayah dengan daya dukung ekonomi terbatas, di tengah ikhtiar pengembangan potensi seperti JALISU (Jalan Lingkar Sumbing), sebuah inisiatif berbasis lanskap dan daya tarik alam yang mulai membuka peluang baru bagi masyarakat.
Proses itu berjalan. Harapan mulai tumbuh. Namun, kebutuhan dasar sebagian warga tetap menuntut perhatian yang tak bisa ditunda.
Di ruang inilah kehadiran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Wonosobo melalui kegiatan Tegak Karya Manunggal (TKM) menemukan relevansinya. Kegiatan yang digelar selama tiga hari, Kamis (30 April) hingga Sabtu (2 Mei 2026), ini diikuti oleh Pramuka Penegak dari Gudep 121/122 Wirosobo–Nyai Ageng Sobo. Lebih dari sekadar agenda kepramukaan, kegiatan ini menjelma sebagai bentuk keterlibatan nyata generasi muda dalam denyut kehidupan masyarakat.
Sorotan paling kasat mata tampak pada bazar baju layak pakai. Tidak ada label harga tinggi, bahkan, batas maksimal hanya Rp5.000. Dalam logika konsumsi modern, angka ini nyaris tak berarti. Namun di Cengklok, ia menjelma menjadi akses.
Warga tidak sekadar menerima, tetapi tetap membeli. Sebuah pendekatan yang menjaga martabat di tengah keterbatasan.
“Di titik ini, kegiatan sosial tidak lagi sekadar memberi, tetapi memanusiakan,” tandas Muzamil, selaku Pembina Pramuka.
Program pembagian sembako menyusul dengan pendekatan yang lebih terukur. Bantuan tidak dibagikan secara merata, melainkan diupayakan tepat sasaran bagi warga yang benar-benar membutuhkan. Hal ini penting, mengingat ketidaktepatan distribusi kerap memicu persoalan sosial di tingkat akar rumput.
Namun, TKM tidak berhenti pada distribusi bantuan. Perlombaan warga yang digelar justru menyentuh sisi yang kerap terabaikan yaitu membangun kedekatan yang setara. Anak-anak, remaja, hingga orang tua terlibat dalam ruang yang sama, bukan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai bagian dari peristiwa bersama.
Tawa yang pecah di sela kegiatan bukan sekadar hiburan, tetapi penanda bahwa relasi mulai terbangun, bukan sekadar interaksi sesaat yang berakhir setelah bantuan dibagikan.
Kepala MAN 1 Wonosobo, Sunaryo, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdimensi sosial, tetapi juga edukatif.
“Kami ingin siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Dari sini mereka belajar empati, memahami kondisi nyata, dan melihat langsung bagaimana kehidupan berjalan di luar lingkungan mereka,” ujarnya.
Di titik ini, TKM memperlihatkan wajah lain dari pendidikan: bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang perjumpaan antara apa yang dipelajari dan apa yang benar-benar terjadi.
Lebih jauh, kehadiran MAN 1 Wonosobo di Cengklok dapat dibaca sebagai bagian dari dukungan sosial terhadap penguatan ekonomi masyarakat, termasuk dalam konteks pengembangan potensi wisata seperti JALISU. Meski tidak menyentuh aspek infrastruktur, kegiatan ini ikut menghidupkan ruang sosial desa, menciptakan interaksi, memperkuat kohesi, dan menghadirkan dinamika yang menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya sebuah kawasan.
Di Cengklok, bantuan memang hadir dalam bentuk nyata. Namun, yang perlahan bekerja justru sesuatu yang tak selalu terlihat: relasi.
Dari interaksi yang terbangun, dari jarak yang mulai menyempit antara siswa dan warga, muncul kedekatan yang kerap terlewat dalam banyak program serupa.
Perubahan besar mungkin belum tampak hari ini. Namun di ruang-ruang sederhana seperti inilah proses itu mulai menemukan bentuknya, pelan, tetapi nyata.
Ps-ws








