Wonosobo (Humas) – Upaya membangun pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi meningkatkan kerukunan juga hangat secara kemanusiaan terus digaungkan oleh Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo. Hal itu tampak dalam kegiatan Rapat Koordinasi dan Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik yang digelar pada Selasa (28/4/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi ASTA PROTAS Kementerian Agama 2025–2029, yang menempatkan peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai salah satu program prioritas. Dalam konteks pendidikan, nilai tersebut diwujudkan melalui Kurikulum Berbasis Cinta, sebuah pendekatan yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedewasaan emosional, dan kekuatan spiritual.
Tak hanya itu, program Penguatan Ekoteologi juga menjadi sorotan. Pendekatan ini mengajak dunia pendidikan untuk merawat bumi sebagai bagian dari panggilan iman, mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Melalui Penyelenggara Katolik, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo menghadirkan forum ini dengan melibatkan para Guru Pendidikan Agama Katolik dan Pembina Agama Katolik. Mereka mendapatkan penguatan kompetensi melalui materi Metode Pembelajaran Mendalam serta Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi.
Materi Metode Pembelajaran Mendalam disampaikan oleh Puji Narima Wati, guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Selomerto yang dikenal berprestasi dan aktif menulis buku. Sementara itu, materi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi dibawakan oleh Laila Budiarti, guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Wonosobo sekaligus bagian dari Tim Program Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Kemenag RI.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Panut, dalam arahannya menegaskan pentingnya guru untuk terus bertumbuh dan beradaptasi. Ia menekankan bahwa kompetensi guru tidak hanya berhenti pada aspek pedagogik dan profesional, tetapi juga mencakup kompetensi akhlak dan sosial.
“Melalui materi Metode Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi, guru diharapkan terus mengembangkan kompetensinya agar mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjadi teladan dalam nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.
Selain penguatan kompetensi, rapat koordinasi juga membahas persiapan Uji Kompetensi Keagamaan Tingkat Dasar tahun 2026. Guru yang mengampu siswa kelas VI Sekolah Dasar diminta segera melakukan pendataan peserta. Materi ujian telah disiapkan dan akan didistribusikan kepada siswa, dengan rencana penguji berasal dari unsur Romo dan Guru Pendidikan Agama Katolik.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Diharapkan, forum ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang tumbuh bagi para pendidik untuk menyalakan kembali semangat belajar, memperdalam makna pengabdian, dan menanamkan nilai cinta kepada sesama, lingkungan, dan Sang Pencipta dalam setiap proses pembelajaran.








